Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
Saya punya primbon yang amat tua. Namanya Betaljemur Adammakna, karangan seorang Tumenggung di pecahan Kerajaan Mataram.
Ketika bapak saya bermimpi, paginya pasti membuka primbon, ia ingin mengetahui arti mimpi itu. Sebagai bocah, di kala itu, saya sangat tertarik kepada buku yang tebal itu. Buku itu diberi sampul plastik, dan di ujung-ujungnya diberi selotif agar sampulnya melekat di buku itu.
Karena seringnya Bapak saya 'berkonsultasi' dengan primbon itu, akhirnya, ketika Bapak saya sedang di kantor, saya buka primbon itu. Ternyata isinya macam-macam, mulai dari penentuan 'neton' (hari pasaran kalender Jawa) hingga sifat orang, sifat kuda, dan bahkan hari pengapesan seorang maling.
Ketika kecil, saya sering 'berjudi' maksudnya yang dijudikan adalah karet gelang. Dengan bernafsu saya cari bagian primbon yang mengajarkan cara menang dalam judi. Akhirnya ketemu juga. Menurut primbon itu, jika kita ingin berjudi, kita harus memilih posisi (utara, barat atau timur) sesuai dengan 'neton' kita. Contoh jika hari itu Senin Legi, maka agar menang kita harus memilih duduk yang menghadap ke barat.
Setelah saya pastikan posisi bermain yang pas menurut primbon, akhirnya saya berangkat 'judi'. Aneh, setelah itu saya lebih sering menang. Begitu menang, saya baca lagi primbon yang cocok untuk 'judi' keesokan harinya. Karena saya sering konsultasi pada buku primbon itu, saya sering menang terus, dan menjadi kaya (maksudnya karet gelang saya teramat banyak).
Ketikan saya makin membaca primbon itu, saya menemukan ajian agar kebal senjata, agar disukai atasan, agar menang adu ayam jago, bahkan ada cara agar pria menjadi demikian 'perkasa'.
Pertanyaannya, validkah primbon itu? Imiahkah primbon itu? Sebenarnya, apakah sesungguhnya primbon itu? Menurut saya, orang Jawa adalah orang-orang yang mengandalkan ilmu 'titen' ilmu mengenal tanda-tanda. Misalnya, jika tekukan siku kanan kedutan (yang rasanya dut-dut itu), maka kita akan menerima uang. Dari ilmu titen itu diketemukan bahwa orang-orang yang akan menerima uang (biasanya agak besar), biasanya mengalami kedutan di tekukan siku kanan. Hasil pengamatan itu kemudian dituliskan.
Karena hal itu berlangsung ratusan tahun, kumpulan tulisan tanda-tanda itu makin banyak, maka kemudian dibukukan menjadi buku primbon. Sebenarnya, cara yang ditempuh ini sudah agak ilmiah. Bukankah ilmu-ilmu ditemukan karena pengamatan? Ketika kita bicara ilmiah, berarti memakai metoda ilmiah, misalnya primbon itu harus bisa berlaku di mana saja termasuk bagi orang Barat, Arab, atau orang Jepang.
Yang menjadikan primbon tidak ilmiah karena memang dalam buku primbon itu tidak dicantumkan proses mereka mendapatkan 'ilmu-ilmu' itu. Juga belum ada percobaan empiris yang menguji kebenaran ajaran-ajaran dalam primbon itu.
Kembali ke judul awal, pantaskah anda sebagai pemimpin memanfaatkan primbon? Sebelum saya menjawab hal itu, saya akan paparkan bagaimana para ahli meneliti dan menemukan ilmu-ilmu manajemen, termasuk ekonomi. Misalnya ada orang mengatakan, "kepuasan bekerja bisa menyebabkan karyawan berkomitmen dalam bekerja". Terhadap pernyataan ini, agar bisa terbukti, maka harus dibuktikan. Maka dibuatlah kuesioner-kuesioner yang memuat variabel kepuasan dan komitmen itu. Kemudian kuesioner disebarkan, dan setelah itu dianalisis. Dari analisis ternyata terbukti bahwa kepuasan kerja bisa meningkatkan komitmen. Ini menjadi ilmu.
Di dunia kepemimpinan, sudah tidak terhitung lagi variabel yang diteliti yang bisa membantu pemimpin dalam memimpin anak buahnya. Mengapa diteliti? Agar pemimpin bisa bekerja dengan efektif. Karena sudah tahu teori yang sudah terbukti, maka ketika pemimpin ingin meningkatkan komitmen, maka lebih dahulu ia harus membuat karyawan puas. Jika tanpa penelitian itu, ia mungkin malah akan men-training-kan karyawan atau kursus spiritual, EQ, dan lainnya dalam meningkatkan komitmen. Tindakan itu, jelas kurang efektif. Mengapa? Karena sudah jelas bahwa komitmen bisa dipacu melalui kepuasan kerja.
Sekarang, ketika pemimpin akan mengambil keputusan, bisakah ia berdasar primbon? Misalkan 'neton' pemimpin itu Rabu Wage, dan menurut primbon ia harus mengambil keputusan hari Jumat. Haruskah ia menunda keputusan hingga hari Jumat? Menurut saya, pemimpin itu tidak usah berdasar primbon. Ambil keputusan segera jika memang harus diputuskan. Menurut Islam, semua hari baik. Artinya pemimpin itu bisa mengambil strategi atau keputusan kapan saja, tidak tergantung 'neton'.
Tapi, apakah primbon tidak bermanfaat? Tergantung. Jika anda ingin melihat primbon sebagai karya bangsa yang patut dilestarikan, ini jelas bermanfaat. Tapi kalau akan menikah, memulai bisnis, mengambil keputusan harus berdasar primbon, menurut saya itu berlebihan. Andaikata primbon itu benar, maka jelas kita tidak mungkin bisa dijajah Belanda. Mungkin Mataram bisa menguasai dunia. Bukankah di primbon itu juga dituliskan hari 'pengapesan' lawan?
Informasi Seminar / Pelatihan
|
Mengapa dulu Majapahit unggul dan bisa menguasai Asia hingga ke Madagaskar? Karena Majapahit menguasai laut dan teknologinya, dan jangan lupa manajemen, tentu saat itu belum dinamai manajemen. Mungkin dinamai, ilmu 'nggulowentah jalmo manungso (nggulowentah: mengelola, jalmo manungso: manusia).
Jika primbon hanya untuk sekadar iseng, ya silakan saja. Atau, siapa tahu anda punya pengalaman lebih banyak dengan primbon dibanding saya? Jika demikian, silakan email saya tentang manfaat primbon itu secara luas. Siapa tahu bahwa jika kita telaten menerapkan nasehat primbon kita akan benar-benar sukses?
Kesimpulannya, ketika anda memimpin, carilah teori atau metoda yang memang berdasar penelitian. Mengapa demikian? Agar tindakan anda efektif. Teori Transformational Leadership adalah salah satu metoda kepemimpinan yang paling efektif yang sudah diuji dengan ratusan penelitian di seluruh dunia. Jika anda ingin berkenalan dengan teori ini silakan klik saja di sini.
Jadi, kalau anda ingin mengandalkan sukses dan anda hanya berdasar primbon, stop sampai di sini. Jepang, Amerika, Jerman tanpa primbon bisa maju pesat. Mengapa mereka maju pesat? Mereka meletakkan kerja keras dipadu oleh ilmu pengetahuan dan manajemen yang menjadikan mereka sukses.
Okay, selamat membuka-buka kasanah orang Jawa, Primbon Betaljemur Adammakna...
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |
Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
