Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar…

Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan.

Ini adalah keluhan seorang kakak kelas yang sedang frustrasi. Sebagai seorang yang background-nya teknik, awalnya ia pesimis bisa sukses kerja di bagian SDM. Mulanya ia begitu 'excited' ketika latar belakang tekniknya bisa memberi berbagai solusi jitu terhadap masalah SDM. Analisisnya yang tajam sering dipuji.

Tapi begitu direktur perusahaan itu mulai menuntut peran yang lebih dari SDM, ia mulai gelisah. SDM Strategis. Strategic SDM. Itu kata-kata favorit para direktur. Ia terus saja surfing di internet. Berbagai artikel (sayangnya bahasa Inggris) susah payah ia baca. Ia mengumpulkan begitu banyak artikel. Namun kesibukan sebagai seorang SDM begitu padat. Artikel-artikel itu hanya sebagai penampung debu, merana. Ia tetap belum tahu persis apa makna SDM strategis.

Ketika ia ditanya langkah-langkah apa saja yang harus ditempuh agar SDM menjadi kunci sukses strategi, ia makin terpojok. Ia merasa atasannya hanya mencari gara-gara. Bukankah peran SDM ya seperti itu saja. SDM ya ngurus gaji, merekrut orang, mengirim SDM ke training, atau memecat jika ada karyawan yang bandel.

Berubah total menjadi strategist

Ia jumpa lagi denganku. Aku sudah siap-siap mendengar keluhannya. "Kamu percaya tidak? Atasanku terbelalak. Mulutnya terbuka. Kemudian berkali-kali berbisik agak keras, 'ini yang kita butuhkan.' Matanya kelihatan berbinar membesar. Ia mengangguk-angguk banyak sekali. Dua puluh mungkin lebih…"

"Apa yang terjadi?" tanyaku. "Setelah saya pulang pelatihan itu, esok harinya saya langsung presentasi kepada para bos itu. Langsung saja beberkan bagaimana peran SDM tradisional harus berubah. Ketika saya mengaku saya sebenarnya 'muak' ketika para bos bicara strategic SDM, mereka tertawa semua. Mereka terkesima begitu saya katakan peran SDM harus lebih transformasional. Peran SDM harus menjadi kunci penentu strategi. Malah ketika saya katakan bahwa semestinya orang SDM harus menjadi partner strategis pimpinan puncak, cahaya berseri nampak membayang di wajah-wajah mereka.

Ketika saya berikan contoh bagaimana tindakan nyata perusahaan seperti Digital, Martin Marietta, Watson Wyatt, Hallmark, bisa mengubah SDM menjadi pelaksana strategi yang hebat, pujian datang bertubi-tubi. "Kamu hebat, kamu jauh lebih paham dari kami. Kamu sekarang seorang strategis."

 Menuntut upaya kongkrit…

 "Baiklah kamu sudah paham strategic SDM, tapi bagaimana cara menerapkan di perusahaan kita?" Bossku terus mendesak. Terus saja aku tunjukkan berbagai template yang mudah cara mengisinya. Saya tunjukkan berbagai kuesioner untuk menilai kesiapan SDM kita. Berbagai form isian yang mudah diisi dan juga contoh-contohnya.

Aku katakan pula bahwa bahasa dan pola pikir kita harus kita ubah. Ketika saya katakan bahwa peran para bos SDM sebagai Organizational Architect, mereka buru-buru meminta penjelasan lebih. Terus saja 'curahkan' yang aku pelajari di pelatihan itu. Bagaimana peran manajemen dalam penciptaan strategi termasuk strategi SDM. Bagaimana memanfaatkan lima proses SDM melalui lensa strategi. Bagaimana perencanaan tenaga kerja (termasuk staf) dari kacamata strategi. Saya bahas pula bagaimana peran manajemen kinerja, pembelajaran karyawan menurut lensa strategi. Terakhir saya bahas berbagai hambatan dalam menerapkan Human Resource Strategic…

"Thank you ya atas presentasi kamu yang luar biasa. Saya tidak menyangka kamu orang teknik bisa begitu fasih bicara strategi. Bukan sembarang strategi, tapi strategi SDM," begitulah komentar para bos itu.

Karena saya begitu antusiasnya, terus saja saya tunjukkan program kerja saya mulai minggu depan hingga 6 bulan mendatang. Walau tetap semangat, saya bisa menangkap secercah keraguan. Tapi ketika saya tunjukkan contoh-contohnya (termasuk formulir-formulirnya), mereka tidak bisa berkata lain kecuali, "Oke, silakan diterapkan. Kami siap mendukungmu. Bahkan bila harus debat dengan Dirut. Ini tidak bisa ditunda…"

Ia ungkapkan rahasianya...

"Trims banyak ya atas saranmu," katanya bersungguh-sungguh. "Ketika berangkat untuk ikut pelatihan itu, terus terang aku sangsi. Pasti membosankan. Terbayang  terkantuk-kantuk di kelas. Teori kering. Banyak istilah. Tapi begitu DR. Dwi Suryanto bicara, rasa sangsiku lenyap entah ke mana. Aku terbawa antusiasmenya. Aku terlena dengan kedalaman ilmunya. Ketika pak doktor itu berkata ia tiap hari harus membaca jurnal-jurnal SDM semata-mata agar bisa dibagikan kepada orang banyak, aku makin kagum lagi.

Anehnya lagi, teori yang kering, membosankan, tiba-tiba menjadi begitu hidup, begitu nyata terjadi di perusahaan, bahkan di perusahaan tempatku bekerja. Aku seolah-seolah berhadapan langsung dengan konsultan ulung yang bisa mengurai masalah dengan cepat. Caranya itu lho, sangat membumi, sangat sederhana.

Ini pula sebabnya aku bisa 'ngoceh' panjang lebar tentang strategi. Itu saja sudah membuat para bos terpana kagum kepadaku…Thanks sekali lagi ya…

Himbauannya

"Kamu harus sebarkan pelatihan itu ke sebanyak mungkin orang SDM. Pemahaman itu sangat penting," ia menasehatiku. Inilah informasinya…

Pelatihan Human Resource Strategic – Turning A Great Idea into a Business Reality

Tanggal 17 – 18 Juni 2008 (2 hari) di Hotel Papandayan Bandung

Investasi: Rp. 2.300.000,- per peserta (sudah termasuk handout, sertifikat, lunch dan snack).

Jika mendaftar sebelum tanggal 10 Juni 2008 cukup membayar Rp. 2.050.000,-

Hubungi: Irma pada no hp 0856-226-5469 atau 022-2100 4900 atau training@pemimpin-unggul.com untuk mendaftar pelatihan ini.