Mengundang Dr. Dwi Suryanto, Ph.D (penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul)

Seringkah anda menghadiri rapat nasional dan anda rasakan itu hanya sebagai ritual belaka?

Bosankah anda ketika dalam rapat itu presenter yang tampil membawakan presentasi yang biasa-biasa saja, dan cenderung menjemukan?

Seringkah anda menjumpai tidak ada unsur “baru” dalam presentasi-presentasi yang ditampilkan dalam rapat itu?

Seringkah ketika presenter menyampaikan materinya, pikiran anda melayang ke mana-mana, dan kadang begitu mendamba kapan jam istirahat dan anda bisa terbebas dari “neraka” rapat itu?

Jika anda mengalami itu semua, selamat, anda seperahu dengan saya.
Tidak terhitung banyaknya rapat nasional yang membosankan, menjemukan, dan tidak ada yang baru. Seolah rapat itu hanya sekadar tradisi, sekadar reuni, omong-omong dengan sahabat lama, namun dibungkus dengan bahasa keren, “Rapat Nasional”.

Namun, pernah suatu kali rapat nasional dihadiri oleh seorang pembicara dari luar. Sepintas penampilannya biasa-biasa saja, namun setelah lima menit berlalu, suasana yang tadinya dingin, penuh skeptis, berubah menjadi hangat dan penuh tawa. Antusiasme yang selama ini terbenam entah di mana, tiba-tiba menyembul kembali dan menyentuh kami semua. Ketika masa depan perusahaan nampaknya begitu kelam, tiba-tiba terasa ada lorong cahaya kecil yang menyinari harapan kami semua.

Ketika presenter itu selesai bicara, ada kehangatan di hati kami. Ya, kita bisa menyelesaikan masalah kita. Pembicara itu ternyata mampu menampilkan pandangan lain terhadap masalah yang membelenggu organisasi kami. Kami sendiri sampai heran mengapa bukan kami yang melihat solusi yang demikian sederhana dan mudah untuk kita laksanakan…

Memang inilah yang sering membelenggu kita semua. Walau karyawan berjumlah ribuan, namun karena hidup dalam lingkungan yang sama, kepercayaan yang sama, dan budaya perusahaan yang sama, tanpa terasa kita memiliki pemikiran yang sama. Masalah yang kita takuti, kita khawatirkan, ternyata juga sama ditakuti oleh karyawan lain.

Kadang kita merasa hanya ada satu tubuh, satu perasaan dan satu pikiran. Seolah ini tidak menjadi masalah, tapi akibatnya, kita tidak pernah berpikir dengan cara lain. Ketika ada “orang luar” bicara kepada kita, tiba-tiba kita jadi mampu menyadari “cacat” berpikir seperti itu.

Tiba-tiba kita menyadari bahwa kebiasaan berpikir tadi ternyata menjadi belenggu untuk melihat solusi inovatif yang bisa menyelesaikan masalah kita. Atau, paling tidak, gagasan orang luar bisa memicu pada gagasan-gagasan lain yang selama ini tidak pernah terbayangkan.

Inilah sebab mengapa sering dipilih direktur dari luar industri. Contoh, eksekutif toko direkrut menjadi direktur dealer mobil, atau direktur kapal disuruh memimpin perusahaan telekomunikasi, atau malah ilmuwan disuruh menjadi direktur bank.

Apa yang mereka harapkan dari pemilihan yang “nyleneh” itu? Agar diperoleh pandangan, gagasan, dan inovasi yang segar. Mengapa? Karena direktur tadi harus belajar banyak tentang industri baru itu. Ketika ia belajar, ia akan mempelajari segala sesuatu tentang industri itu, termasuk kelemahan dan keunggulan bisnis itu.

Akibatnya, dari proses belajarnya, ia akan menemukan pendekatan-pendekatan baru. Hal itu dimungkinkan karena ia juga sudah memiliki pengalaman yang luas di bidang yang digelutinya selama ini.

Namun ada kalanya, mencari gagasan segar bisa dengan cara mengundang atau mempekerjakan sementara seorang pakar dari luar perusahaan untuk memberi gagasan, menantang anggapan lama, dan membangkitkan semangat berinovasi yang dirasakan melempem di organisasi itu.

Ketika mengundang pakar, suasana kreatif, hangat, tertantang, akan sering hadir dalam rapat-rapat yang panjang. Hal itu nampak jelas seperti apa yang saya laporkan di atas.

Bahkan perusahaan yang termasuk Fortune 500 sering membayar begitu mahal kepada para doktor dan profesor dari berbagai universitas di Amerika Serikat hanya sekadar untuk mendengar mereka berceramah. Perusahaan itu mau membayar mahal kepada para profesor tadi karena mereka ingin mendengar apa saja yang sudah diketahui oleh para profesor tadi.

Melalui penelitian sehari-hari terhadap masalah bisnis yang harus melalui prosedur ilmiah yang ketat, para profesor tadi memang mampu menyajikan solusi-solusi jitu terhadap masalah bisnis. Kadang pula, mereka lebih banyak tahu tentang industri termasuk pesaing-pesaing perusahaan itu dibanding para eksekutif di industri itu.

Hal ini memang wajar saja karena para profesor dan doktor tadi memang membaktikan waktu sehari-harinya untuk meneliti.

Inilah yang saya tawarkan. Saya siap menjadi “orang luar” dan siap hadir untuk memberikan gagasan baru kepada organisasi anda. Mengapa saya berani mengklaim seperti itu? Jelas, saya orang luar. Saya tidak “terbelenggu” pada pikiran yang selama ini menghinggapi karyawan anda. Selain itu, saya adalah dosen, pengajar, dan peneliti. Hari-hari selalu saya gunakan untuk mempelajari jurnal-jurnal penelitian para pakar leadership dan change di seluruh dunia.

Jika para karyawan sibuk bekerja menghasilkan produk atau jasa, saya sibuk membaca, menelaah, dan menuliskan hasil penelitian para ahli di seluruh jagad ini. Lagi pula, dengan pemahaman sebagai seorang doktor manajemen, saya bisa mengaitkan antara penelitian satu dengan penelitian lainnya.

Akibatnya, saya sering menemukan gagasan-gagasan baru, yang bahkan berbeda sama sekali dengan penelitian tadi. Tapi ini tidak mengherankan. Ketika anda demikian teliti mempelajari segala sesuatu, tanpa terasa anda menjadi mahir.

Bagi saya, waktu 20 tahun mengamati, berpraktek, dan mempelajari dunia leadership dan change telah membawa saya pada kondisi “mengenal seluk beluk leadership hingga  tahapan mendalam” dan itulah yang akan saya bagikan jika anda mengundang saya.

Ketika anda mengundang saya, anda akan mengetahui hal-hal baru tentang leadership dan change yang selama ini belum pernah dikenal orang. Mengapa? Karena gagasan-gagasan brilian itu tersembunyi dalam ribuan jurnal penelitian yang begitu sukar dipahami. Anda ingin sekadar belajar “kenal” dengan bahasan jurnal, cobalah yang berikut ini…

“The knowledge-based view of the firm builds on the resource-based view of the firm, which suggests that firms' competitive advantages stem primarily from internal resources and capabilities (Barney, 1995; Wernerfelt, 1984; Penrose, 1959). Grant (1996), Teece (1998) and Boisot (1998) provide the foundations for a knowledge-based view of the firm and argue that knowledge is the key resource capable of creating sustainable competitive advantages. Knowledge resources are an especially valuable category of resources and meet Bamey's (1991) criteria for resources capable of providing sustainable competitive advantages: valuable, rare, inimitable, nonsubstitutable (Edvinsson and Malone, 1997). Knowledge resources and capabilities include worker know-how, product designs, customer knowledge and efficient processes (Boisot, 1998; Grant, 1996; Teece, 1998; Davenport & Prusak, 1997). Organizations that manage their knowledge more effectively than their competitors will be able to achieve competitive advantages (Boisot, 1998)”

Bagaimana? Cukup merepotkan bukan? Itulah yang saya baca sehari-hari. Mengapa saya lakukan itu? Karena saya merasa memang itulah “Dharma” seorang ilmuwan, seorang peneliti. Saya harus mampu menelaah masalah yang rumit dan kemudian menyampaikan kepada orang-orang dengan penjelasan yang mudah dan menyenangkan.

Ketika saya mengajar atau memberikan ceramah kepada khalayak, saya selalu memegang prinsip-prinsip berikut:

Topik-topik yang dibahas

Ketika anda mengundang Dr. Dwi Suryanto, anda bisa memilih topik-topik berikut ini. Masing-masing topik itu biasanya disampaikan dalam presentasi yang berkisar antara dua hingga tiga jam. Dengan format seperti itu, akan sangat cocok sebagai pembuka dan “penyegar” rapat-rapat kerja yang sering demikian membosankan.

  1. Transformational Leadership. Topik ini telah dibuat bukunya dan berisi begitu banyak petunjuk untuk menjadi pemimpin efektif, yang kesemuanya didukung oleh penelitian yang mantap. Klik di sini untuk belajar lebih lanjut.
  2. Managing Change. Ingat managing change berbeda dengan change management. Ketika perusahaan melakukan managing change, yang diubah adalah orangnya. Ini adalah tren yang paling hangat di perusahaan. Dengan mengundang Dr. Dwi Suryanto, para pimpinan di perusahaan anda akan memperoleh gambaran dan gagasan baru tentang bagaimana mengelola perubahan secara efektif. Ia banyak menulis artikel tentang change pada web ini.
  3. Intuition for Leader. Salah seorang pakar kepemimpinan mengatakan, “ketika anda mulai menggunakan intuisi, maka anda sudah melangkah dari seorang manajer menjadi seorang pemimpin.” Anda akan belajar bagaimana mengenali dan memanfaatkan intuisi secara mudah. Anda bahkan diajar bagaimana mendeteksi suatu kilasan intuisi sebagai sesuatu yang benar atau hanya sekadar “trick” dari pikiran.
  4. Metaphysical Principles in Business. Selain sebagai doktor manajemen, ia juga mengantongi gelar doktor di bidang metaphysics. Anda akan begitu terpana ketika menyaksikan betapa prinsip-prinsip metafisika demikian mendominasi dunia bisnis. Sekarang ini, para eksekutif di Amerika begitu giat mempelajari naskah kuno seperti Tao Te Ching, I Ching, Kaballah, New Age, Rosicrucian Principle, dan bahkan kewaskitaan orang-orang Indian. Mengapa? Karena dari “wisdom” yang sifatnya timeless, abadi itu, para eksekutif dapat memetik butiran-butiran “hikmah” yang bisa membantu memajukan bisnisnya. Kitab-kitab itu, sebagian besar membahas hal-hal yang sifatnya metafisika, yang ternyata begitu bermanfaat jika diterapkan dalam dunia bisnis.
  5. Bagaimana Membangkitkan Komitmen Kerja karyawan. Melalui studinya, Dr. Dwi Suryanto menemukan rahasia-rahasia membangkitkan komitmen karyawan. Masalah komitmen ini adalah satu topik yang sangat banyak diteliti oleh para pakar di seluruh dunia. Ketika anda mengundangnya untuk membahas komitmen, anda akan mendapatkan begitu banyak gagasan membangkitkan komitmen karyawan. Jangan lupa, penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang berkomitmen tinggi telah terbukti mampu meningkatkan kinerja organisasi.
  6. Membangun “Spirituality based organization”. Sekarang ini tren yang paling “hot” di perusahaan kelas dunia adalah bagaimana menerapkan spirituality dalam organisasi. Sprituality, termasuk tema baru yang mendapat perhatian begitu besar baik oleh para praktisi maupun akademisi. Ini wajar saja karena dunia bisnis yang begitu mekanistik, persaingan yang makin menggila, telah mengakibatkan stress yang tinggi pada karyawan. Dengan melakukan spirituality, mereka berharap tempat kerjanya bisa menjadi “oasis” bagi jiwa-jiwa yang kering. Pertanyaannya, bagaimana mewujudkan organisasi seperti itu? Dr. Dwi Suryanto telah siap dengan jawaban jitu terhadap masalah itu.
  7. Bagaimana menjadi pemimpin pertama kali. Ada yang aneh di dunia kita. Ketika menyetir, anda harus belajar lebih dulu tentang cara menyetir. Walau anda seorang insinyur mesin yang sehari-hari bergelut dengan mesin, dapatkah anda menyetir mobil tanpa latihan lebih dahulu? Tidak dapat bukan. Tapi dunia kepemimpinan seperti itu. Walau tanpa pernah belajar kepemimpinan, orang langsung saja ditunjuk menjadi pemimpin.

Alasan penunjukan menjadi pemimpin sangat sederhana, karena anda sukses menjadi akuntan atau sukses menjual polis asuransi. Karena anda sudah sukses, “semestinya” anda bisa sukses sebagai pemimpin. Ini sama seperti ahli mesin yang diharap langsung bisa menyetir mobil. Akibatnya? Jelas, lebih banyak yang gagal ketika menjadi pemimpin. Kepemimpinan merupakan bidang ilmu tersendiri. Anda tidak percaya? Ketik saja keyword “leadership” pada google.com, niscaya anda akan temukan lebih dari 256 juta situs yang membahas leadership.

Tapi jika anda baru pertama kali menjadi pemimpin, dengan mengundang Dr. Dwi Suryanto anda akan langsung bisa menjadi pemimpin efektif. Ia akan mampu “memangkas” hal-hal yang tidak berguna dan menawarkan metoda yang paling cepat dan efektif agar anda segera menjadi pemimpin efektif.

Sebagai pemimpin, anda harus benar-benar mempersiapkan perencanaan suksesi ini dengan sebaik-baiknya. Ketika Dr. Dwi Suryanto menjelaskan fenomena penting ini, anda akan menyadari betapa sedikitnya yang kita tahu tentang aspek yang sangat penting ini.

Dalam seminar-seminar mereka saling menukar kartu nama, saling bertanya bisnis apa saja mereka itu. Mengapa mereka saling bertukar kartu nama? Sebab mereka bisa menawarkan barang atau jasa mereka pada kenalan baru itu. Ini yang sangat dipahami oleh hampir semua orang.

Namun memanfaatkan orang, sebagai bagian networking, agar kita bisa menawarkan barang, adalah kesalahan fatal. Gara-gara kita memberi kartu nama, kita sering ditelpon orang ditawari produk macam-macam. Akibatnya, kita jadi enggan melakukan networking. Dr. Dwi Suryanto akan mengajukan cara yang praktis untuk networking. Tidak ada lagi rasa malu untuk networking.

Mengapa? Karena ini adalah advanced networking, anda tidak akan menawar-nawarkan produk anda kepada kenalan baru anda. Begitu anda mengenali konsep ini, networking akan menjadi dambaan anda. Anda menjadi pusat solusi, orang akan selalu mengenang jasa-jasa anda, akibatnya, bisnis anda akan sukses besar.

Itulah sepuluh topik yang sekarang ini sedang tren di perusahaan seluruh dunia. Tentu anda bisa mengundang Dr. Dwi Suryanto untuk topik-topik lain karena betapa pun juga ia adalah seorang doktor manajemen, yang tentu saja sangat paham terhadap berbagai masalah di perusahaan. Apalagi, bekal pengalamannya, termasuk pernah menjadi direktur pemasaran, memang cukup luas.

Oleh karenanya, ketika anda akan mengadakan rapat-rapat termasuk rapat kuartalan, tengah tahunan atau rapat tahunan, anda akan mengundang Dr. Dwi Suryanto untuk hadir memberikan penyegaran dalam rapat-rapat yang biasanya sangat membosankan. Untuk menghubunginya klik di sini.