Kepala Dinas Penerangan yang ganteng itu baru saja selesai rapat. Karena tugasnya yang memang harus bergaul di masyarakat, ia juga akrab bergaul dengan penjaga keamanan rakyat yaitu polisi. Wajahnya yang tampan, kepintarannya yang mempesona dan keramahannya yang tulus membuat para polisi menyukai pejabat itu.
Seorang polisi berpangkat bintara diam-diam mengamati pejabat itu. Ia kagum, ia terpesona kepadanya, dan ia berjanji jika ia punya anak lelaki akan dinamai sama dengan pejabat itu. Akhirnya Allah SWT memberi karunia berupa bayi lelaki sehat kepada polisi itu. Bayi itu terlahir di Kota Magelang pada hari Selasa Pon tanggal 18-12-1962.
“Bune, sebaiknya bayi lelaki kita itu kita namakan sama dengan nama bapak di Dinas Penerangan itu. Gimana?” Tanya polisi itu kepada istrinya. Karena semangat “ndonya nunut neraka katut” sang istri mengiyakan himbauan suami. Akhirnya bayi itu diberi nama “Dwi Suryanto”, yang artinya anak kedua, dan nama “Suryanto” adalah nama pejabat dinas penerangan itu. Harapannya, agar anak itu nanti jadi pinter dan ganteng seperti pejabat itu...
Pelajaran 1: Nama adalah doa, oleh karenanya, berilah nama anak anda nama yang baik...
Walau hanya seorang polisi berpangkat rendah, cita-cita polisi itu terhadap anaknya sangatlah tinggi. Agar ia memperoleh sekolahan yang baik, maka anak itu disekolahkan pada sekolah swasta, yaitu SD. Kanisius Pendowo I Magelang. Walau anak itu dan orang tuanya beragama Islam, setiap hari Senin minggu pertama tiap bulan, pasti bersama-sama pergi ke gereja. Maksudnya, semua anak, walau agamanya Islam atau Hindu atau Budha harus ikut ke gereja.
Tanpa terasa anak itu berhasil lulus dari SD Katolik itu dengan nilai terbaik, termasuk pelajaran agama Katolik yang mendapat nilai 10. Karena sejak kecil sudah terbiasa ikut dalam ibadat agama Katolik, di masa tuanya ia bisa bergaul dengan pemeluk agama lain dengan amat bersahabat dan penuh toleransi.
Ia melanjutkan sekolah ke SMP Negeri II, sekolah yang termasuk terbaik di kota itu. Tiap hari ia selalu disuruh oleh ibunya membeli minyak goreng, bumbu masak, dan kebutuhan dapur lainnya. Agar bergegas, ia selalu lari dari rumahnya ke warungnya. Jika ada tanggul, atau parit, ia pasti melompatinya. Gara-gara selalu lari dan lompat itu, ketika ada lomba lompat jauh di SMP itu, ia berhasil jadi juara. Ketika ia mewakili sekolah itu untuk ikut lomba lompat jauh se kota Magelang, ia, tanpa sengaja, bisa menjadi juara II.
Pelajaran 2: Gunakan bakat alami anda, ketika itu anda lakukan, mencapai prestasi tinggi menjadi jauh lebih mudah
Namun ketika di SMA ia ikut lomba lompat jauh lagi, ia hanya dapat nomor 4, kalah dengan SGO (Sekolah Guru Olah Raga). Saat itu pak guru olah raganya berkomentar, “Ndak usah sedih, yo, pasti kalah sama SGO, wong mereka kerjanya cuma di lapangan terus... 
Pelajaran 3: Sebagai pemimpin, anda harus selalu memberi semangat pada bawahan anda.
Ketika di SMP itu, ia sering ditantang anak kampung lainnya untuk berkelahi. Pernah satu dua kali ia berkelahi, tapi hasilnya selalu draw. Entah siapa yang menang...Kadang ia ditantang dan terpaksa menolak tantangan karena takut. Untung ketika kelas 3 SMP, ia bisa ikut Pencak Silat. Sebuah perguruan pencak silat di desa. Melalui pencak silat itulah ia "siap" menghadapi tantangan anak-anak lain. Namun entah karena gaya jalan yang "pendekar" atau karena "perbawa" atau karena "aura" yang memancar setelah berlatih silat, ia tidak pernah lagi ditantang berkelahi. Akhirnya, ilmu yang dilatihnya hanya untuk hobi. Dan hobi itu diteruskan bahkan hingga ia mempunyai anak dua.
Pelajaran 4: Berolah raga (apa pun) penting membentuk sikap sportif dan percaya diri. Jika anda belum berolah raga, lakukanlah mulai saat sekarang, niscaya mutu kesehatan anda akan meningkat.
Memasuki masa remaja dengan masuk SMA Negeri I Magelang, sebuah sma yang termasuk "the best" di sana. Jika prestasi di SD dan SMP cermerlang, di SMA ini ia biasa membawa nilai ulangan berupa angka 2, 3, atau 4. Untuk mencari 6 apalagi 8, susah bukan main. Namun bukan hanya ia saja yang "cubluk" anak lain juga banyak yang bodo.
Pelajaran 5: Pasang surut prestasi, bukanlah petunjuk bahwa anda gagal. Keadaan akan parah jika anda sendiri yang menganggap anda gagal, jika begitu, anda memang pantas gagal. Semestinya, kegagalan hanyalah sebagai feedback, maju terus dan anda pasti sukses...
Roda nasib menggelindingkan dirinya masuk fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada tahun 1982. Nampaknya ia begitu nyaman kuliah di sana, apalagi banyak ceweknya...Agar ia bisa duduk di tengah-tengah para cewek, seringkali ia pasang tasnya di tengah-tengah tas cewek ketika ia baru saja datang. Ketika kuliah tentu saja di kanan kirinya para cewek yang bisa "membunuh" jam kuliah yang panjang.
Pelajaran 6: Kadang perlu pula pencari "pengalih perhatian" dari kehidupan sehari-hari yang membosankan. Mengapa? Agar kita tidak terlalu stres...
Belum tiga bulan kuliah, roda nasib kembali menerjangnya. Ia terpaksa keluar dari UGM dan masuk Pendidikan Tinggi Pos di Bandung. Kata bapaknya, "Sudah terima saja, nanti lulus kan langsung kerja. Jadikan saja ini batu loncatan. Apalagi bapakmu ini kan sudah pensiun sejak kamu SD, jadi kecil kemungkinan kamu bisa lulus dari UGM..."
Pelajaran 7: Sering orang tua lebih mampu melihat cakrawala yang lebih luas, oleh karenanya, ketika orang tua memberi nasehat, perhatikanlah...
Dengan prinsip "sendiko dawuh" namun tetap sedih, ia akhirnya berangkat ke Bandung. Namun sekolah di Bandung itu tidak main-main lho mutunya. Bayangkan, dari 10.000 pelamar hanya diterima 70 orang. Setelah tiga tahun hanya lulus 52 orang, lainnya dropout di tengah jalan. Ketika lulus, by chance pula, berhasil lulus terbaik no. 2 dan mendapat hadiah jam beker. Jam itu, hingga kini masih hidup.
Ketika umur 22 menjelang 23 tahun, ia mulai bekerja di kantor pos Magelang. Baru 2 hari magang, hari ketiganya ia harus sudah memimpin 15 orang. Baginya, ini pengalaman yang menyenangkan sekaligus membingungkan. Masih semuda itu, tapi harus memimpin banyak orang, lagi pula, semua orang pada memanggil Pak.
Ketika mulai memimpin itulah ia mulai mencari bentuk kepemimpinan yang paling efektif. Kembara pencarian yang tiada berakhir mengantarkannya hingga ia menempuh program doktor di bidang kepemimpinan.
Pelajaran 8: Begitu kesempatan datang (termasuk kesempatan memimpin), harus dimanfaatkan untuk belajar sebanyak-banyaknya. Jika tidak, kesempatan itu mungkin tidak pernah lagi mendatangi anda...
Ketika umur 25 hampir 26 ia "dipercaya" menjadi kepala kantor di pulau Flores, suatu kantor pos di kabupaten yang sangat terpencil. Karena sering rindunya pada tanah Jawa, mimpi-mimpinya selalu membuat resah. Mengapa? Karena ketika bermimpi, pasti lokasi mimpi di tanah Jawa. Ketika ia geragapan bangun, terpaksa terlontar keluhan pendek, "Ah, aku masih di tanah Flores, entah kapan aku akan kembali ke Jawa..."
Pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika ia harus menyambut acara pernikahan, yang kalau di Jawa dikenal dengan nama "ular-ular pengantin" atau "the snakes of wedding" Mengapa begitu? Karena ia bujangan. Jika bujangan, bagaimana bisa menasehati pengantin? Jangan-jangan yang dinasehatkan berupa khayalan liar seorang pria bujang...bisa gawat.
Untunglah, sebelum berangkat ke Flores, ia sempat menghadiri upacara pengantin salah seorang temannya. Ketika itu Pak Kyai memberi "ular-ular" Tanpa sengaja, semua ular-ular tadi terekam dalam benaknya. Ketika harus menyambut pengantin, ia langsung saja "copy paste" ular-ular dari sang kyai. Akibatnya, acara ular-ular menjadi demikian menarik. Islami, lucu, dan baru...Bahkan konon, kepala suku itu ingin saya menjadi anggota kehormatan suku itu...
Pelajaran 9: Selalulah belajar di mana saja, bahkan ketika anda hanya sekadar menghadiri acara "melek-melek" di kampung menjelang 17 Agustus...
