Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
Hubungan atasan-bawahan ini oleh Fiedler (dalam Brown; 2001) juga
dipandang sebagai faktor yang penting dalam membahas fenomena kepemimpinan.
Menurut Fiedler, tidak ada pemimpin yang ideal. Ini adalah pernyataan yang menarik.
Hampir di bidang apapun orang ingin mencari cara, metoda, teknik yang terbaik, termasuk di bidang kepemimpinan. Namun sayang untuk bidang kepemimpinan cukup banyak teori kepemimpinan yang harus dipelajari. Beberapa ilmuwan mengembangkan teorinya sendiri-sendiri. Salah satunya adalah Fiedler. Ia mengembangkan teori kepemimpinan yang dinamakan ‘Contingency Theory of Leadership Effectiveness’.
Brown (2001) menjelaskan bahwa ketika para ilmuwan mengasumsikan bahwa hanya ada satu gaya kepemimpinan terbaik, Fiedler mengajukan model di mana efektivitas pemimpin tergantung kepada situasi yang dihadapinya. Atau jika ada kecocokan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang mendukung atau disebut dengan control situasi (situational control).
Komponen kunci dari “contingency theory” adalah “the Least Preferred Coworker” (LPC) yaitu instrumen untuk mengukur orientasi kepemimpinan seseorang menggunakan 18 hingga 25 pasang kata sifat. Responden diminta untuk mempertimbangkan karyawan yang paling tidak disukainya dan ia harus mengisi kata sifat dari kuesioner itu.
“Tidak ada pemimpin yang ideal,“ kata Fiedler. Baik pemimpin yang mendapat nilai LPC rendah atau tinggi dapat tetap efektif jika gaya kepemimpinan mereka cocok dengan situasi yang dihadapinya. Tiga komponen situasi menentukan...
hal 9
Miliki Segera Buku Transformational Leadership!
Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda... Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya... Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531 |
apakah situasi itu cocok atau tidak dengan pemimpin yaitu: hubungan atasanbawahan, struktur tugas, dan posisi kekuasaan. Fiedler menemukan bahwa pemimpin yang rendah nilai LPC-nya akan jauh lebih efektif jika ada pada situasi yang sangat menyenangkan atau sangat tidak menyenangkan. Sedangkan pemimpin dengan nilai LPC tinggi kinerjanya akan terbaik jika situasinya cocok namun pada kadar menengah, bukan pada tingkatan ekstrim.
Jika kita lihat tiga komponen di atas, yaitu hubungan atasan-bawahan, struktur tugas, dan posisi kekuasaan, hubungan atasan-bawahan adalah faktor yang sangat penting. Hal ini terjadi karena dalam bekerja sehari-hari selalu terjadi interaksi yang intens antara atasan dan bawahannya. Interaksi ini dimulai dari atasan memberikan tugas, membimbing bawahan, mengarahkan bawahan, hingga menilai kinerja bawahan.
“Faktor terpenting dari hubungan atasan - bawahan adalah kualitas hubungan atau interaksinya, “ kata Graen dalam Dunegan dkk. (1992).
Ketika penulis mengamati di lingkungan kerja penulis di PT Pos Indonesia, penulis menjumpai sekelompok karyawan tertentu yang begitu dekat dengan atasannya. Mereka bergaul begitu akrab, kadang pulang melebihi jam kerja, mereka juga mendapat fasilitas yang lebih dibanding kelompok lainnya. Bila saat peninjauan untuk naik jabatan, mereka seringkali naik lebih dahulu dibanding kelompok lainnya.
Ini adalah fenomena menarik. Namun ada kelompok lain yang jauh lebih banyak, yaitu mereka yang jauh dari pemimpinnya. Hubungan mereka dengan atasannya lebih banyak berupa hubungan formal, tidak begitu akrab, mereka bekerja hanya menepati jam kerja yang seharusnya. Dan nampaknya atasan juga tidak memberi tambahan...
hal 10
Daftar Isi
hal 11
Judul disertasi: Pengaruh Kemiripan Persepsi, Kemiripan Demografis Atasan-Bawahan, Ketertarikan Atasan pada Bawahan, Kualitas Hubungan Atasan-Bawahan, Kepuasan Kerja, dan Komitmen Karyawan terhadap Peringkat Prestasi Kerja - Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran - Bandung 2005
DR. Dwi Suryanto
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |
Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
