Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
commitment yang tinggi lebih kecil kemungkinannya untuk keluar dari organisasi dibandingkan dengan karyawan yang rendah continuance commitment-nya. Orang yang memiliki continuance commitment itu akan menghindari perilaku yang dapat membahayakan posisinya sebagai anggota dari organisasi itu. Perilaku yang berkorelasi negatif dengan continuance commitment adalah absensi, karena absensi yang berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya pemecatan yang bersangkutan (Mayer; 1992).
Individu yang memiliki komitmen terhadap nilai (value committed) dapat
diharapkan untuk berperilaku yang membantu organisasi mencapai tujuan-tujuannya,
tidak peduli apakah hal itu merupakan peran yang diharapkan oleh organisasi atau
tidak. Oleh karenanya, kinerja dan perilaku yang baik di organisasi berkorelasi positif
dengan komitmen terhadap nilai. Dapat ditambahkan pula bahwa individu yang
percaya kepada tujuan dan nilai-nilai organisasi akan lebih puas dengan organisasi
jika dibanding dengan karyawan yang tidak begitu percaya dengan tujuan dan nilainilai
organisasi itu (Mayer; 1992).
Tingkat keluar masuknya karyawan, secara signifikan dapat diprediksi menggunakan continuance commitment daripada komitmen nilai. Satu alasan yang bisa dikemukakan dari penemuan ini adalah bahwa individu yang memiliki komitmen nilai mungkin menunjukkan bahwa ia berniat untuk tetap berada dalam organisasi. Namun jika ia tidak memiliki continuance commitment, dia akan meninggalkan organisasi jika peluang itu telah muncul dihadapannya (Mayer; 1992).
Porter dan Lawler (1968) dalam Stephen (1997) melihat komitmen adalah kemauan karyawan untuk melakukan upaya yang tinggi untuk kepentingan
hal 75
Informasi Seminar / Pelatihan
|
perusahaan, keinginan yang kuat untuk tetap berada dalam organisasi itu dan menerima sepenuhnya tujuan-tujuan utama dan nilai-nilai perusahaan. Allen dan Meyer (1990) dalam Stephen & Annette (1997) menemukan bahwa komitmen afektif dapat diprediksi secara baik oleh pengalaman bekerja di mana pengalaman itu mempromosikan adanya perasaan yang nyaman di dalam organisasi dan kompetensi pribadi (misalnya adanya pekerjaan yang menantang). Continuance commitment, di lain pihak, berkorelasi tingi dengan ukuran kerugian potensial (misalnya manfaat pensiun) dan karena kurangnya alternatif yang tersedia bagi orang itu (Stephen & Annette; 1997).
Karyawan yang memiliki pengetahuan atau informasi lebih luas tentang
organisasi tempat mereka bekerja diperkirakan akan mengalami tingkat komitmen
lebih tinggi daripada karyawan yang menerima informasi yang tidak jelas atau tidak
ada informasi tentang organisasi. Komunikasi yang tidak terbuka dan tidak jelas
cenderung akan membuka ruang akan adanya bias dan persepsi ketidakadilan, oleh
karenanya, itu akan menimbulkan komitmen yang rendah (Ogilvie, 1987) dalam
Stephen & Annette (1997).
Putti, Aryee, dan Phua (1990) dalam Stephen & Annette (1997) menemukan bahwa kepuasan anggota organisasi dengan banyaknya informasi yang tersedia dari organisasi itu akan mempertinggi komitmen. Pemikiran ini terjadi karena rasa puas dengan informasi itu mungkin akan mendorong rasa memiliki dan identifikasi orang itu dengan nilai dan tujuan-tujuan organisasi.
hal 76
Daftar Isi
hal 77
Judul disertasi: Pengaruh Kemiripan Persepsi, Kemiripan Demografis Atasan-Bawahan, Ketertarikan Atasan pada Bawahan, Kualitas Hubungan Atasan-Bawahan, Kepuasan Kerja, dan Komitmen Karyawan terhadap Peringkat Prestasi Kerja - Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran - Bandung 2005
DR. Dwi Suryanto
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |
Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
