Halaman 31 dan 32 Disertasi Dwi Suryanto

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )

Gaya kepemimpinan berupa perintah (directing leadership style) dipakai oleh pemimpin ketika hubungan pemimpin dan pengikutnya buruk dan posisi pemimpin kuat. Sedangkan gaya kepemimpinan mendukung (supporting style) digunakan jika bawahan telah memiliki pendidikan formal, dan struktur tugas sederhana dan dilakukan berulang-ulang, atau dinamakan tugas rutin (Pechlivanidis dan Katsimpra; 2004).

Sementara itu para wanita lebih menunjukkan memakai gaya kepemimpinan interaktif atau disebut kepemimpinan transformational dibanding pria. Gaya kepemimpinan seperti itu ditemukan berkorelasi dengan beberapa keterampilan manajemen yang terkait dengan sukses (Burke dan Collins; 2001).

Sejalan dengan yang diharapkan oleh Leung dan Bozionelos (2004), dalam masyarakat Konfusius yang agak konservatif, keterbukaan adalah sifat yang paling tidak berhubungan dengan gagasan pemimpin yang efektif. Penemuan itu menyimpulkan bahwa sifat terbuka memiliki nilai yang berbeda pada masyarakat Anglo-Saxon dan Konfusius.

Nampaknya sifat terbuka dari seorang pemimpin dapat membantunya menaiki posisi kepemimpinan di masyarakat Anglo-Saxon, namun di masyarakat Konfusius, sifat seperti itu diharapkan ada namun minimal.

Nampaknya kemungkinan besar harapan baik pemimpin dan pengikutnya dapat mempengaruhi hubungan antara pemimpin dan pengikut. Contoh, seorang pemimpin yang aman (secure leader) mencoba membangun hubungan dengan bawahan yang sering cemas, di mana ia seringkali menuntut adanya perhatian yang berlebih dari atasannya. Atasan orang itu mungkin akan memandang bawahan itu sebagai beban dan akibatnya atasan itu akan menarik diri dari dukungan emosional lebih jauh (Keller; 2001).

hal 31

Miliki Segera Buku Transformational Leadership!

Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda...

Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul.

Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya...

Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu

Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531

Banyak manajer yang berpengalaman tidak memahami peran mereka sesungguhnya di dalam organisasi. Mereka salah mempercayai bahwa mereka dibayar untuk “memastikan bahwa karyawan bekerja, menyuruh orang mengerjakan apa yang harus dikerjakan, menghadiri rapat, atau hanya sekedar duduk berpikir hal-hal yang besar.”

Semestinya pemimpin di bidang apapun baik di bidang militer, politik, atau pendidikan harus melakukan: mendongkrak kecerdasan, keahlian, perilaku dan potensi orang-orang lain dengan tujuan mencapai sesuatu yang lebih besar daripada jika dilakukan oleh pemimpin atau orang lain secara sendirian (Kraines; 2001).

Penemuan yang didapat oleh Oshagbemi (2004) menjelaskan bahwa antara manajer yang muda dan tua terdapat perbedaan pada gaya kepemimpinan konsultatif dan partisipatif. Semakin tua seorang manajer ia melakukan konsultasi lebih dan mengundang partisipasi yang lebih banyak dari bawahannya dibanding dengan manajer yang masih muda.

Cooper (2001), seorang konsultan kepemimpinan menjelaskan pentingnya pemimpin harus memiliki visi dengan mengatakan, “Kita tahu bahwa pemimpin pada tiap tingkatan organisasi membutuhkan visi, fokus strategi, dan kecenderungan untuk bertindak. Tapi agar mampu sukses dalam dunia kita yang sedang berubah dan makin kompleks ini, pemimpin perlu mendapat cara pandang dan keahlian baru yang berbeda dari pemikiran konvensional tentang bagaimana menaikkan energi dan perhatian di tengah tekanan yang tidak ada hentinya ini.”

Hasil yang ada menunjukkan bahwa semakin tinggi pemimpin mempersepsi dirinya memiliki integritas dan percaya kepada aturan moral universal, semakin rendah pula niatnya untuk melakukan tindakan tidak bermoral. Sedangkan individu...

hal 32
Daftar Isi
hal 33

Judul disertasi: Pengaruh Kemiripan Persepsi, Kemiripan Demografis Atasan-Bawahan, Ketertarikan Atasan pada Bawahan, Kualitas Hubungan Atasan-Bawahan, Kepuasan Kerja, dan Komitmen Karyawan terhadap Peringkat Prestasi Kerja - Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran - Bandung 2005

DR. Dwi Suryanto

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...


Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.