Seminar: How to Read and Understand Financial Statement - 3 dan 4 November 2008

Seminar: Finance and Accounting for Non Financial Managers - 5 dan 6 November 2008

Pelatihan Pajak Penghasilan Pegawai - 10 dan 11 November 2008

Seminar: Best Practices for Personnel / HR Assistants - 12 dan 13 November 2008

 

Bab 7 - Spirituality (bag 7): Esensi Spiritual

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )

Inilah sesungguhnya esensi dari spiritualitas. Spiritualitas berarti percaya kepada sesuatu di luar (beyond) kita yang mampu mengatur segalanya, dan kita tidak berdaya untuk mencegah Nya berbuat sesuatu. Inilah sesungguhnya terjadinya titik temu antara dunia sains dan agama, samasama menuju Tuhan. Bahkan Einstein dengan anggun mengatakan, “Sungguh sangat mengherankan seorang ilmuwan yang mampu memahami rahasia alam, namun ia tidak mengenal Tuhannya.”

Panca indera yang demikian terbatas

Dunia sains yang mengandalkan sarana panca indera ternyata sangat terbatas. Imam Al Ghazali, seorang pemikir Muslim yang sangat terkenal kecewa melihat keterbatasan ini. Awalnya ia adalah seorang ilmuwan biasa, bukan ilmuwan agama. Ketika ia mengamati, ternyata tongkat menjadi melengkung ketika dimasukkan ke dalam air. Matanya, ternyata menipu keadaan yang sesungguhnya. Tongkat itu masih tetap lurus, namun mata kita melihatnya sebagai tongkat bengkok. Al Ghazali melihat, mata kita sebagai sarana empiris, ternyata sudah “menipu.”

Melihat kenyataan itu, dia meninggalkan dunia ilmu pengetahuan dan bertapa selama 10 tahun di menara Masjid Damaskus. Ia ingin mencari ilmu dari Sang Maha Cerdas. Hasil ilmu yang didapat dari sumber langsung itu terekam dalam kitab “Ihya Ulumuddin”, yang begitu mengagumkan, tidak saja bagi orang Islam, namun juga bagi orang Barat.

Tapi dunia manajemen tidaklah sedrastis Al Ghazali, mereka masih sangat mengandalkan pada pengamatan empiris. Namun pengamatan empiris itu tersentak ketika ditemui kenyataan bahwa apa yang kita amati ternyata dipengaruhi oleh pengamatnya. Ketika para ahli ingin mengamati interaksi pada subatomik untuk melihat subatomik sebagai gelombang, maka yang terlihat ternyata hanya sebagai gelombang. Namun ketika pengamat ingin mengamati sebagai partikel-partikel, ternyata subatomik tadi terlihat sebagai partikel.

Miliki Segera Buku Transformational Leadership!

Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda...

Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul.

Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya...

Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu

Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531

Ini memberi kita informasi tentang pentingnya cara pandang kita tentang sesuatu. Ketika kita melihat segala sesuatu sebagai masalah, maka kita akan menemukan begitu banyak masalah menghadang di depan kita. Namun ketika kita melihat sesuatu sebagai suatu kesempatan (opportunity), maka kita akan melihat begitu banyak kesempatan yang terhidang di hadapan kita.

Kenyataan ini ternyata sesuai dengan keadaan ketuhanan. Tuhan YME, dalam salah satu hadis Qudsi, mengatakan bahwa Tuhan, sesuai dengan persangkaan hambanya. Jika hamba menganggap Tuhannya sebagai kejam, keras, maka itulah yang akan diterima. Sedangkan bila hamba menganggap Tuhannya begitu kasih, begitu penyayang, maka hamba itu akan merasakan hidupnya selalu dalam limpahan kasih dari Tuhannya. Perhatikan kata persangkaan di atas, bukankah kita bisa menyangka sesuatu karena kita mengamati? Contoh, ketika mengamati mendung, kita kemudian membuat persangkaan bahwa nanti akan hujan. Seorang hamba yang mengamati hidupnya sebagai susah, maka ia kemudian akan menyangka Tuhan telah menyusahkannya.Jika itu yang ia lakukan, maka ia akan mengalami kesusahan.

Indah sekali bukan? Ternyata dunia sains tingkat tinggi (level subatomik) sangat serasi dengan ketuhanan. Kenyataan inilah yang kemudian ditangkap oleh perusahaan-perusahaan visioner kelas dunia.

Mereka sekarang ini menitikberatkan produk dan jasanya untuk melayani kemanusiaan, tidak semata-mata mengejar laba. Ketika perusahaan melayani kemanusiaan, yang berarti bersifat spiritual, karyawan sangat antusias menyambutnya. Upaya itu ternyata sangat sesuai dengan kehausan para karyawan untuk menjalankan spiritualitas dalam pekerjaan mereka. Anehnya, kinerja keuangan perusahaan-perusahaan itu ternyata sangat bagus dan jauh melampaui perusahaan-perusahaan yang sangat terfokus pada pencarian laba semata.

Anda akan mudah melihat bagaimana perusahaan kelas dunia yang sukses menyediakan ruang-ruang khusus untuk bermeditasi. Bahkan sebelum rapat yang strategis, mereka berdiam diri merenung, mencoba menangkap kilasan ilham dari Yang Maha Kuasa. Anda akan menemukan betapa seorang CEO perusahaan kelas dunia di pagi hari datang ke kuilnya untuk berdoa kepada para dewa dan roh leluhurnya. Anda akan menemukan betapa seorang Dirut BUMN yang menutup pintunya rapat rapat jam setengah sepuluh untuk shalat Duha.

Sejarah telah membuktikan bahwa pemimpin-pemimpin yang berjuang atas nama ideologi adalah pemimpin-pemimpin yang unggul, tangguh, dan tidak mudah dikatakan. Perhatikanlah bagaimana Khalid bin Walid mampu memimpin pasukan Islam mengalahkan tentara Romawi dan tentara mana saja yang jumlah dan persenjataannya jauh melebihi tentara Islam. Akibatnya, wilayah Islam menjadi begitu luas. Anehnya pula, negeri-negeri yang dikuasai oleh Islam itu penduduknya langsung berbondong-bondong masuk Islam.

Sejarah membuktikan bagaimana Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Jenderal Sudirman dan para pahlawan lain mampu membuat Belanda kalang kabut, walau Belanda bersenjatakan modern. Inilah esensi dari seorang pemimpin yang kuat.

Pegangannya, landasannya adalah kepada Sang Pencipta. Percikan darah mereka, mereka tumpahkan demi kecintaan pada tanah air, yang berarti pula berhikmat kepada Tuhan mereka.

Ini pula sesungguhnya pegangan pemimpin transformasional. Ia memimpin hanya demi menjalani perintah dari Tuhannya. Ketika Tuhan dijadikan panglimanya, ia tidak takut dan ragu untuk memimpin bawahannya menuju tataran tinggi yang bisa dicapai oleh manusia. Jelas dengan pegangan kepada Tuhan ini, pemimpin ini akan menjadi pemimpin yang jujur, karena ia merasa dirinya selalu diawasi detik demi detik oleh Tuhannya.

Akibatnya, ia menjadi pemimpin yang etis, jujur, mempedulikan orang lain, dan kesemuanya itu dilakukan demi pengabdiannya kepada Tuhan. Organisasi-organisasi yang menekankan pentingnya praktek-praktek spiritual di tempat kerja, dinamakan contemplative organization (Maia
Duerr, 2004).

Organisasi ini cenderung mementingkan tingginya nilai (value) dalam proses kerjanya. Prosesnya harus menjunjung tinggi nilai-nilai moral, tidak merusak lingkungan, tidak memakai tenaga anak-anak, tidak mengeksploitasi tenaga kerjanya tanpa bayaran yang layak. Setelah proses yang demikian menjunjung tinggi moral, mereka kemudian melakukan non-attachment pada hasil kerjanya.

Non-attachment berarti mereka tidak terlalu memperhatikan hasil yang dicapai. Mereka mempercayai bahwa kalau proses dilakukan dengan menjunjung nilai-nilai yang tinggi, hasilnya pastilah akan bermutu tinggi.

Ketika anda sudah belajar mati-matian untuk menghadapi ujian besok, apa yang anda rasakan pada saat anda akan ujian? Anda pasrah, anda tidak mempedulikan hasilnya. Anda sudah bersusah payah belajar. Anda kemudian berdoa. Bagaimana hasilnya? Seringkali hasilnya bagus. Bahkan ketika tidak bagus pun, anda tidak terlalu kecewa karena anda sudah belajar mati-matian. Sikap anda yang pasrah, dan kemudian berdoa inilah yang dinamakan dengan non-attachment.

Dari wawancara yang dilakukannya terhadap para karyawan yang ditelitinya, Maia Duerr (2004) menemukan bahwa para karyawan berpendapat, cara mereka bekerja adalah sama pentingnya dalam pencapaian tujuan. Sikap non-attachment ini berarti sikap spiritual. Anda memasrahkan hasilnya pada sesuatu di luar sana.

Apa pun hasilnya, kita serahkan kepada “Yang Di sana.” Akibatnya, pekerjaan menjadi rendah tingkat stresnya. Dampaknya, orang menjadi lebih kreatif, dan ciri suasana kreatif inilah yang membedakan antara pemimpin transformasional dengan pemimpin biasa.

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...


Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.