Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
Menurut penelitian, integrasi spiritual dengan tempat kerja terjadi dalam
tiga tahap:
1. Tahap jiwa yang gelap, yaitu keadaan di mana simbol-simbol dunia yang begitu mencekam, sekarang tidak lagi mempunyai banyak arti. Contoh, mobil mewah adalah simbol status yang amat dibanggakan oleh sebagian besar orang. Namun ketika orang mencapai pencerahan, ia menyadari, kebanggaan tadi hanyalah permainan ego yang tidak mau kalah. Ego yang selalu ingin bersaing.
Di kedalaman hati, ada ruh yang selalu kehausan untuk memperoleh manfaat dari harta benda tadi. Menurut ruh, harta tadi mestilah bisa bermanfaat untuk menambah amal sebagai bekal di alam kelanggengan.
2. Pencarian spiritual, ini merupakan pencarian prinsip-prinsip spiritual yang ia dambakan. Contoh, ketika orang mengalami kehancuran dalam bisnis, dan kemudian mencari keteduhan pada tataran spiritual, orang itu akan begitu bernafsu mencari lebih banyak lagi ajaran yang mampu memuaskan dahaga spiritualnya.
3. Integrasi spiritual. Ini adalah keadaan di mana orang belajar menerapkan prinsip-prinsip ajaran spiritual ke dalam setiap aspek kehidupan, termasuk di tempat kerjanya. Contoh, jika tadinya seseorang menganggap anak hanya sebagai akibat logis dari pergaulan suami istri, sekarang ia melihat, di balik jasmani anak-anak itu ada suatu daya yang sedang mewujudkan ekspresinya. Anak yang bermain, anak yang menyanyi, nakal, bandel, namun juga amat lucu, merupakan ekspreasi dari energi yang sedang berekspresi.
Miliki Segera Buku Transformational Leadership!
Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda... Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya... Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531 |
Ia kemudian menyadari, anak tadi adalah “kreasi” yang amat sempurna dari Yang Maha Kreatif. Ketika ia menatap mata anak-anaknya, ia mampu melihat jiwa vulnerable, yang dititipkan kepadanya selaku orang tuanya untuk memelihara jiwa itu. Ia bahkan merasa begitu dipercaya oleh Tuhannya untuk menghadirkan kuasa Tuhan di dunia ini.
Mencari nilai-nilai luhur di tempat kerja
Orang yang telah bertransformasi spiritual akan mencari nilai-nilai luhur dari pekerjaannya. Jika tadinya bekerja hanya dianggap sebagai pencari nafkah, ia mengganggap, ia juga berperan ikut berbuat kebaikan bagi dunia ini, melalui produk-produk yang dijual oleh perusahaan tempat ia bekerja. Ia anggap bekerja sebagai sarana menuju kepada Tuhannya.
Pertanyaannya, apakah orang harus melalui peristiwa besar seperti bercerai, kematian suami / istri, kecelakaan dan sebagainya untuk bisa mengalami transformasi spiritual? Tidak selalu. Di sekeliling kita, kita akan menjumpai ada orang yang begitu saleh, begitu taat beragama.
Ketika ia bekerja, orang itu bekerja dengan jujur, penuh kasih sayang, dan begitu takut kepada Tuhannya sehingga ia tidak korupsi, manipulasi, dan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain atau perusahaannya. Tingkah laku yang terpuji itu merupakan hasil dari praktek yang ia lakukan yang berdasar pada ajaran agamanya.
Namun sering pula kita menjumpai orang yang begitu taat beribadah, dan kelihatan saleh, namun begitu bicara, bicaranya menyakitkan hati. Ritual yang ia jalani secara ketat ternyata tak mampu mengekangnya untuk korupsi, manipulasi, dan menyakiti hati orang lain. Orang ini bisa kita katakan belum tertransformasi secara spiritual. Namun bisa saja ia berubah secara total hanya karena ia membaca buku tertentu. Ketika membaca buku itu, hatinya yang beku bagaikan gunung es, perlahan mencair menjadi aliran bening yang membawa serpihan kesombongan pada dirinya. Ia kemudian berubah menjadi bijaksana, peduli, dan penuh kasih. Saat itulah ia mengalami transformasi spiritual.
Sering terjadi konflik
Pada kenyataannya, sering terjadi konflik antara keinginan karyawan untuk maju secara spiritual dengan budaya organisasi tempat karyawan itu bekerja. Contoh, karyawan yang sudah spiritualis itu begitu membenci praktek suap yang diterapkan perusahaannya, namun praktek itu tetap saja dijalankan. Alasannya macam-macam, mulai dari sekedar entertainment hingga melicinkan jalannya bisnis. Menghadapi kenyataan ini, karyawan itu bisa kemudian menarik diri dari aktivitas itu, atau pada titik ekstrim, ia mungkin akan keluar dari tempat bekerjanya.
Bagian 3: Orang makin peduli terhadap spiritualitas
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |
Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
