Menjual dengan Kecerdasan Emosi

Anda ingin memperbaiki kinerja penjualan anda? Manfaatkan Kecerdasan Emosi. Mengapa? Karena penjualan adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Kata kuncinya adalah pada kecerdasan emosi yang mutlak harus anda miliki jika anda ingin meningkatkan penjualan secara dramatis...Baca artikel selengkapnya

Menjadi Pemimpin Karismatik

Bagaimana Menjadi Pemimpin Karismatik, dengan mudah, praktis, dan cepat... Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya. Baca artikel selengkapnya

Atasan Yang Sangat Menjengkelkan...

Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar…

Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan. Baca artikel selengkapnya

Bab 7 - Spirituality (bag 5): Fenomena Seratus Monyet

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )

Transformasi perorangan ternyata dapat mempengaruhi suatu kelompok. Kelompok itu kemudian dapat mempengaruhi kepada keseluruhan organisasi, atau masyarakat. Sehingga jika kita ingin mentransformasi masyarakat, kita harus memulainya dari perorangan atau kelompok lebih dahulu. Fenomena “seratus monyet” menggambarkan secara lebih jelas proses transformasi itu.

Ada seekor monyet “tercerahkan”

Pada tahun 1952, beberapa ilmuwan memberikan buah bengkoang kepada sekelompok monyet Jepang. Mereka memberikan buah itu dengan cara menjatuhkan buah-buah itu di atas pasir. Monyet-monyet itu sangat menyukai manisnya buah itu, namun pasir yang melekat pada buah itu mengurangi kenikmatan mereka.

Tiba-tiba ada seekor monyet yang meletakkan satu buah di aliran air dan ia mencuci buah itu sebelum makan. Monyet ini kemudian mengajarkan “teknik” itu kepada induknya. Induk tersebut, mungkin karena terdorong oleh “kejeniusan” anaknya, segera menceritakan pengalaman hebat itu kepada monyet lainnya.Begitu seterusnya, cerita dari satu monyet ke monyet lainnya.

Penularan secara cepat

Kemudian, terjadilah peristiwa yang sangat mengherankan. Monyet-monyet itu selalu mencuci buah sebelum makan. Setelah melalui monyet yang begitu banyak (katakanlah 100 monyet), proses belajar mencuci buah itu ternyata menular. Penularan itu bukan saja hanya pada suku monyet itu, tapi juga pada monyet-monyet di pulau-pulau sekitarnya.

Energi yang menulari itu oleh para ahli dikatakan sebagai energi seratus monyet spirituality (SUASANA batin pemimpin transformasional) (hundredth monkey). Dr. Rupert Sheldrake (1986) telah mengajukan teori untuk menjelaskan fenomena ini. Dia menerangkan sebagai berikut. Ada pola kepercayaan kolektif yang membentuk “morphogenetic fields”, yang pada dasarnya adalah kebiasaan berpikir.

Miliki Segera Buku Transformational Leadership!

Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda...

Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul.

Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya...

Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu

Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531

Membentuk morphic resonance

Kebiasaan berpikir itu setelah cukup permanen akan membentuk “morphic resonance”. Contoh, masyarakat mengamati, ketika orang menjadi pemimpin, orang akan cenderung korupsi, atau menggunakan kekuasaan itu untuk kepentingannya sendiri. Ketika cukup banyak orang mempercayai kepercayaan itu, kepercayaan itu akhirnya akan menjadi permanen. Sehingga ketika ada orang memimpin, orang itu akan terpengaruh kepada kepercayaan itu, dan akhirnya ia akan korupsi. Semakin orang mempercayai kepercayaan itu, kepercayaan itu makin kuat.

Namun ketika orang berpikir berbeda, akan terbentuk medan energi yang berbeda. Contoh, dengan pemberantasan korupsi yang efektif dan kontinyu, mengakibatkan orang takut korupsi. Akibatnya, pemimpin yang korupsi makin sedikit. Saat itu, kepercayaan orang tentang pemimpin pasti korupsi, mulai tergeser dengan kepercayaan pemimpin belum tentu korupsi. Ketika makin banyak orang percaya pemimpin jujur alias tidak korupsi, akhirnya akan mendorong pemimpin untuk tidak korupsi.

Pentingnya pemimpin jujur

Inilah sesungguhnya juga terjadi di perusahaan. Seorang pemimpin yang jujur, akan cenderung mencari pemimpin di bawahnya orang jujur pula. Begitu kejujuran makin banyak di perusahaan, kejujuran itu akan menular kepada semua orang. Akibatnya, perusahaan itu akan terisi orang-orang yang jujur pula.

Apa yang dikemukakan oleh Rupert Sheldrake ini memberi kita gagasan betapa transformasi bisa dilakukan lebih dahulu oleh orang per orang, kelompok, dan kemudian meluas menjadi seluruh masyarakat.

Ahli fisika ikut bicara

Sekarang ini, teori-teori baru mulai merambah teori dan praktek manajemen. Teori kekacauan (Chaos Theory), teori sistem (sistems theory), hingga ilmu “fisika baru” ikut memberi informasi lebih banyak pada pengembangan kepemimpinan. Istilah synchronicity, self-organizing systems, connectedness, wholeness, sudah menjadi hal yang lumrah dalam pemikiran dan teori manajemen.

Bahkan David Bohm (seorang ahli fisika terkenal) pun ikut dirujuk oleh para pakar kepemimpinan. Ketika menjelaskan realita fisik di sekitar kita, ia mengatakan, kesemuanya ini menyatu, tidak ada yang terpisah-pisah. Ketika kita merasakan diri kita terpisah dengan orang lain atau alam, itu hanya karena kebiasaan berpikir kita. Dengan kata lain, fisika modern menyatakan, kita adalah bagian dari keseluruhan yang lebih besar lagi. Kita terhubungkan dengan kehidupan mana saja.

Pemahaman seperti inilah sesungguhnya yang menjadi inti, atau ruh keyakinan seorang pemimpin transformasional. Ia merasa terhubung dengan orang lain, dengan karyawannya, dengan pelanggan bahkan pula dengan pesaing perusahaannya. Ia melakukan transformasi spiritual lebih dahulu, baru kemudian transformasi itu menular kepada para bawahannya.

Tidak ada realitas obyektif

Ia menyadari, yang nampaknya berupa realitas obyektif, ternyata tidak ada. Yang ada hanyalah pengalaman seseorang tentang suatu realitas. Contoh, ketika ada seorang jahat yang bertato, sementara selama ini kita percaya, orang bertato adalah penjahat, kita akan menganggap, sering kali tanpa kita sadari, orang bertato tersebut pasti jahat. Anggapan kita itu belum tentu benar, namun kenyataannya kita tidak pernah memeriksa apakah anggapan kita itu masuk akal atau tidak.

Semakin banyak orang menganggap bahwa adanya tato merupakan indikator kejahatan, anggapan itu akan meluas. Tanpa disadari, ketika orang melihat orang bertato, langsung saja orang itu dianggap jahat. Mempersepsi tato seperti itu hanyalah salah satu contoh bagaimana masyarakat membentuk persepsi mereka tentang segala sesuatu.

Kemalasan berpikir

Sepintas, keunggulan manusia dibanding makhluk lain adalah kemampuannya berpikir. Benar, manusia memang mampu berpikir, dan kemampuan ini sungguh hebat. Namun kenyataannya, tidak banyak orang yang mendayagunakan pikiran itu. Yang terjadi adalah kemalasan berpikir, sehingga tidak mau menggali lebih dalam suatu informasi.

Contoh, pernahkah masyarakat mempertanyakan keabsahan klaim iklan-iklan di televisi? Iklan sampo yang begitu ampuh membasmi ketombe hingga 98 persen, benarkah kenyataannya? Jika benar, pasti kita semua sudah bebas ketombe. Kenyataannya, ketombe masih saja menodai rambut kita. Kita kemudian terus saja mencari dan membeli berbagai merek sampo dengan harapan ketombe hilang. Namun ketika salah satu merk sampo tidak cocok, dengan amat mudahnya kita mengatakan “ah, mungkin saya tidak cocok dengan sampo ini…” Begitu seterusnya, kita “dipermainkan” oleh iklan-iklan televisi dari saat ke saat.

Keadaan ini bisa diubah jika ada studi-studi independen yang mengkaji kebenaran iklan-iklan tadi. Jika studi demi studi menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan iklan tadi, dan kemudian disampaikan ke masyarakat, masyarakat luas akan menjadi lebih berhati-hati menerima iklan-iklan di televisi. Akibatnya, mereka akan menjadi masyarakat yang terdidik, yang mampu menggunakan pemikiran untuk melihat segala sesuatu secara lebih seksama.

Menantang anggapan lama

Apa kaitan pembahasan ini dengan kepemimpinan transformasional? Pemimpin ini menyadari benar adanya kemalasan berpikir seperti itu. Celakanya, kemalasan berpikir itu ternyata menjadi pegangan karyawan dalam bekerja sehari-hari. Contoh, di kalangan pegawai negeri sipil (termasuk BUMN) sering terungkap istilah, pinter goblok gajine podho wae (pinter atau bodoh gajinya sama saja).

Untuk mengajak karyawan keluar dari anggapan itu, tentu pemimpin transformasional harus menggunakan pendekatan berbeda. Ia mungkin akan mengajak kepada aspek spiritual melayani masyarakat. Bekerja, jika ikhlas, akan dapat pahala, adalah jargon yang bisa menggantikan jargon di atas.

Secara perlahan, pemimpin tadi juga mencoba untuk “menantang” anggapan yang sudah dianggap benar tadi. Dicarinya informasi betapa orang-orang yang serius, bekerja kreatif, dan berdedikasi ternyata mampu tumbuh lebih cepat dibanding orang yang santai-santai saja. Mungkin orang itu mendapat kesempatan belajar yang lebih luas misalnya kuliah S-2 dan sebagainya, yang akibatnya, ia bisa memperoleh pendapatan tambahan dengan mengajar, menulis buku, dan sebagainya.

Pengumpulan bukti yang makin banyak disertai dengan ajakan untuk bekerja demi tujuan spiritual, secara perlahan akan mengubah anggapan tadi. Ia menjaga terus momentum itu. Jika pada suatu titik tertentu, orang akhirnya mempercayai pentingnya bekerja keras, bekerja cerdas, kreatif, dan sebagainya mampu mengubah orang, saat itulah terjadi transformasi di organisasi itu. Walau sudah ada transformasi, pemimpin itu terus membimbing karyawan menuju arah-arah yang saling menguntungkan baik organisasi maupun karyawan. Perpaduan inilah yang akhirnya menjadi kekuatan yang besar untuk mencapai sukses sebuah organisasi.

Empat keyakinan dominan

Jika kita amati lebih dalam, ada empat keyakinan yang dominan melandasi tingkah laku kita (Hotchkiss, 1996). Keyakinan itu adalah: (1) Saya adalah tubuh saya. Ketika kita mempercayai hal itu, maka fokus perhatian kita adalah pada kesehatan, perasaan enak di badan, penghindaran penyakit dan sebagainya. Pengalaman kita akan didominasi oleh tubuh kita dan keterbatasannya.

Sangat gampang mengamati orang seperti itu. Inilah ungkapanungkapan yang khas terdengar, “Ah, segar benar, setelah saya tiap hari olah raga…,” atau “Saya harus makan multivitamin terus, kalau tidak, wah, lemaslah raga ini…,” atau “Edan, dasar badan sudah tua, kena angin sedikit saja saya flu…” dan seterusnya.

(2) Saya adalah orang yang bersalah. Rasa bersalah itu bisa karena dosa-dosa, atau kita “diprogram” untuk selalu bersalah oleh orang tua kita, atau oleh orang lain. Contoh, masyarakat kita selalu menekankan pentingnya rasa bersalah ini. Beranikah atau nyamankah anda duduk di atas bantal di tempat tidur? Bagi saya, dan teman-teman Jawa saya, jelas tidak nyaman. Tapi duduklah dan rasakanlah benar-benar, empuk bukan? Agama, tabu, larangan, pamali, ora ilok, sudah mendominasi keyakinan kita untuk merasa bersalah setiap saat.

(3) Saya beda dengan orang lain, saya terpisah dengan orang lain. Jika keyakinan ini mendominasi kita, maka kita lebih sering melihat perbedaan yang ada antara kita dengan orang lain. Rumah kita pagari agar jelas batas-batasnya. Saat itu, kita lupa, orang lain adalah masih saudara kita, paling tidak sesama orang Indonesia, atau paling tidak, masih saudara dari Adam dan Hawa.

(4) Saya tidak lengkap. Karena kita merasa tidak cukup, tidak lengkap, maka kita perlu menambah segala sesuatu untuk melengkapi kita. Pengejaran harta, gelar, jabatan merupakan cerminan dari kepercayaan ini. Kesemuanya ini kita lakukan agar diri kita lebih lengkap, lebih cukup.

Bagian 6: Model command and control tidak sesuai lagi

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...


Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.