Menjual dengan Kecerdasan Emosi

Anda ingin memperbaiki kinerja penjualan anda? Manfaatkan Kecerdasan Emosi. Mengapa? Karena penjualan adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Kata kuncinya adalah pada kecerdasan emosi yang mutlak harus anda miliki jika anda ingin meningkatkan penjualan secara dramatis...Baca artikel selengkapnya

Menjadi Pemimpin Karismatik

Bagaimana Menjadi Pemimpin Karismatik, dengan mudah, praktis, dan cepat... Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya. Baca artikel selengkapnya

Atasan Yang Sangat Menjengkelkan...

Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar…

Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan. Baca artikel selengkapnya

Bab 7 - Spirituality (bag 6): Model Command and Control yang tidak Sesuai lagi

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )

Keyakinan-keyakinan dominan di atas menginspirasi kita bahwa dunia ini tidak aman. Karena tidak aman, maka kita perlu mengontrol apa saja agar kita bisa mendapat apa yang kita inginkan. Kita juga mengontrol agar tidak terjadi sesuatu yang merugikan kita. Keinginan untuk selalu mengontrol segala sesuatu ini akhirnya menyebabkan kita kecanduan. Inilah keadaan yang oleh para ahli disebut sebagai dominance paradigm.

Paradigma seperti inilah yang mendominasi dunia bisnis. Sungguh sangat masuk akal jika kontrol, pengawasan begitu mendominasi pekerjaan seorang manajer. Itu semua dilakukan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Kemampuan mengontrol ternyata tidak besar

Dalam kenyataannya, model ini sangat sering menimbulkan stres dan keresahan. Kemampuan kita mengontrol segala sesuatu ternyata tidaklah sebesar yang kita perkirakan. Walau alat-alat canggih dipandu dengan kecerdasan buatan, ternyata kita tetap tak mampu meramal dengan sangat tepat keadaan cuaca esok hari. Kita tetap tidak berdaya meramal kapan terjadinya gempa, tsunami, badai, dan bencana alam lainnya. Bahkan walau kita demikian rajin menjaga kesehatan kita, penyakit masih saja sering hadir di tubuh kita.

Walau kita mengawasi ketat proses produksi, masih saja selalu timbul penyimpangan-penyimpangan tertentu. Walau kita sudah promosi begitu gencar dan sistematik, hasilnya kadang sering tak sesuai harapan kita.

Bahkan kita yang sudah demikian hati-hati menyetir mobil, masih saja kita mengalami kecelakaan. Walau Amerika Serikat dengan teknologi militernya yang paling maju pun, negara itu masih tak mampu memprediksi adanya serangan teroris di WTC.

Kejadian-kejadian yang sering di luar kontrol kita itu, menimbulkan pemikiran bahwa ada “sesuatu” di luar sana yang begitu perkasa, yang dengan “kehendaknya sendiri” mampu berbuat apa saja yang disenanginya. Inilah yang kemudian oleh para ahli mulai dibuatkan modelnya, teorinya, dan yang paling terkenal adalah Chaos Theory. Semakin kita mengamati segala sesuatu di sekitar kita, kita makin melihat begitu banyaknya hal-hal acak terjadi di sekitar kita. Tapi kejadian acak ini sangat tidak menyamankan kita. Kita adalah manusia yang ingin segala sesuatunya pasti, atau paling tidak terprediksi.

 

Miliki Segera Buku Transformational Leadership!

Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda...

Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul.

Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya...

Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu

Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531

Mengapakah kita takut gelap? Karena kita tidak tahu apa yang ada di dalam kegelapan itu. Mengapakah kita takut menjelajahi hutan? Wah, di sana keadaanya tidak menentu, mungkin banyak ular, binatang buas, atau bahkan hantu. Kita sangat takut kepada kekacauan. Apa pun akan kita lakukan agar segalanya berjalan lancar, terkendali. Dan itulah sebabnya mengapa model manajemen tradisional sangat bisa kita pahami. Agar produksi baik, kita harus perintah agar orang patuh pada aturan, setelah itu kita awasi. Kenyataannya? Masih saja hasil produksi itu kadang menyimpang tanpa kita tahu apa sebabnya.

Dasar Chaos Theory terkait dengan keadaan ketidakseimbangan. Bagaimana suatu sistem yang jauh dari keseimbangan, kemudian berubah, tumbuh, dan berkembang, yang kita bisa katakan mereka mengorganisasi diri sendiri. Karena adanya ilmu ini, kita sekarang dapat memahami dan bahkan melihat pola-pola yang selama ini kita anggap sebagai perilaku acak. Jika kita kembali ke pengalaman berlalu-lintas di Jakarta, kita menjadi tahu bahwa lalu-lintas yang semrawut itu ternyata mampu mengorganisasi diri sendiri.

Permadani indah

Saya punya permadani yang lumayan bagus. Kata penjualnya, permadani itu dari Iran. Ketika kita lihat lukisan, ornamen atau hiasan permadani itu begitu indah, begitu serasi. Warnanya yang kontras, tapi tidak norak, membiaskan keindahan tersendiri. Katanya pula, permadani itu dibuat dengan tangan, dan memakan waktu dua hingga tiga bulan. Ah, permadani yang indah. Baiklah, marilah kita balikkan permadani itu. Indah? Jelas tidak, nampaknya benang-benangnya berserabutan, warnanya tidak ada harmoni, sambung-menyambung yang jelas membingungkan. Aneh, mengapa ketika dibalik ia kelihatan indah.

Nampaknya itulah kehidupan kita ini. Ketika kita terjerembab dalam kesedihan, kita rasanya menjadi orang paling sial di dunia. Rasanya, alam memusuhi kita. Seolah, kejadian-kejadian itu bersekutu, berserikat untuk menjatuhkan kita. Kita kemudian menamakan itu dengan nasib buruk.Fast forward, waktu berpacu dengan cepat, kemudian lihatlah “nasib buruk” anda itu. Masihkah nampak buruk? Seringkali, yang terlihat adalah hikmah. Coba andaikata dulu tidak dimaki atasan, mungkin anda tidak bangkit dan memperbaiki diri. Andaikata tidak dipindah, mungkin anda tidak akan menemukan pasangan hidup anda dan sebagainya. Sesuai dengan kondisi subatomik di atas, apa yang diamati ternyata tergantung kepada yang mengamati.

Ketika anda mengamati roda nasib yang naik turun, dan anda mengamati sebagai seorang “begawan” anda akan melihat begitu indahnya kejadian-kejadian saling terajut dengan sempurna. Anda akan melihat betapa alam demikian bersekutu dan memihak anda.

Nasib ”buruk” belum tentu buruk

Bagi saya, ketika saya keluar dari fakultas ekonomi Universitas Gadjah Mada untuk masuk akademi Pos, jelas menyedihkan. Betapa tidak. Orang lain begitu sulit untuk masuk universitas itu, saya kok malah meninggalkannya.

Namun roda nasib berderit dan berputar dengan anggunnya, saya, tanpa saya duga, akhirnya masuk Magister Manajemen UGM. Siapa nyana, siapa menduga. Sekarang ini ketika menghadapi suatu kejadian, saya mencoba bersikap seperti seorang resi atau begawan, saya mencoba melihat melihat rahasia apa yang sedang diungkapkan oleh kejadian yang hadir dalam hidup saya. Ketika itu saya bertindak sebagai seorang pengamat, dan tentu saja saya hanya ingin mengamati sisi baiknya saja.

Memang benar, kejadian-kejadian yang saya alami yang dulu saya “cap” sebagai nasib buruk, saya sekarang mampu melihatnya sebagai suatu harmoni alam yang sangat indah, sebagaimana saya melihat permadani yang indah tadi.

Siapa pembuat “kekacauan” itu?

Anda mungkin heran mengapa Chaos Theory ini digunakan untuk menerangkan hal-hal spiritual. Penjelasannya, adalah siapa yang menyebabkan “kekacauan” tadi? Mengapa “Ia” berbuat seperti itu? Pastilah ia Maha Perkasa, dan ketika bicara unsur ini, suka tidak suka pastilah akan kembali kepada Penguasa Jagad Raya, yaitu Tuhan.

Namun, dunia sains tidak bisa memasukkan unsur Tuhan, God, ke dalam model teori mereka. Mereka hanya menduga sistem itu mengatur sendiri, dari yang tadinya tidak seimbang, kemudian menjadi harmoni. Bagi orang beriman, jelas yakin kekuatan di balik “kekacauan” tadi adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan orang yang ateis pun percaya kepada Chaos Theory ini, artinya, ia percaya ada “kekuatan lain” yang demikian perkasa mengatur itu semua. Ketika kita percaya ada kekuatan luar biasa yang mengatur semua hal, termasuk yang nampaknya kacau, maka orang itu telah beriman kepada Tuhan. Kesimpulannya, orang ateis tadi ternyata percaya kepada Tuhan.

Bagian 7: Esensi Spiritualitas

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...


Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.