Anda ingin memperbaiki kinerja penjualan anda? Manfaatkan Kecerdasan Emosi. Mengapa? Karena penjualan adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Kata kuncinya adalah pada kecerdasan emosi yang mutlak harus anda miliki jika anda ingin meningkatkan penjualan secara dramatis...Baca artikel selengkapnya |
Bagaimana Menjadi Pemimpin Karismatik, dengan mudah, praktis, dan cepat... Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya. Baca artikel selengkapnya |
Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar… Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan. Baca artikel selengkapnya |
Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
Pernahkah anda ikut perkemahan pramuka, dan ikut dalam tim untuk berlomba? Ketika tenda sudah dibangun, ketika tikar di dalam temah sudah digelar, dan ketika tas-tas sudah diletakkan, para anggota pramuka berunding untuk memilih pemimpin. Tim itu akan siap bertanding berbagai lomba melawan tim lain. Saat itu yang terpikir anggota tim hanyalah bisa menang, atau paling tidak bisa berprestasi sebaik mungkin.
Melalui rasa kesetiakawanan, serta melalui upaya pengakuan prestasi yang jujur diantara mereka, akhirnya mereka sepakat memilih pemimpin. Mereka yakin dengan pemimpin yang sudah dipilih itu, mereka akan mampu bertanding dengan baik.
Apakah pemilihan pemimpin sukarela terjadi dalam tim-tim kerja di organisasi? Cukup jarang. Yang biasa terjadi adalah dibentuk satu tim dan yang memimpin adalah orang yang memiliki tingkat jabatan yang lebih tinggi. Ketika tim berjalan, anggota tim lebih banyak menunggu arahan dari pemimpin yang lebih tinggi kedudukannya itu.
Kerja tim memang berjalan dengan baik, hasil-hasilnya dapat diselesaikan tepat waktu. Namun, kadang hasil itu tidak optimal. Apalagi jika tim itu dituntut bekerja kreatif. Kreatifitas tidak bisa dipaksa untuk keluar. Agar keluar harus ada suasana senang, rileks, dan ada saling kepercayaan antar anggota tim.
Apa istilah atasan menurut manajemen? Mandor, pengawas, bos, majikan. Sekarang? Pemimpin group, pemimpin team, atau mentor. Apa yang berubah? Ada perubahan yang relatif mendasar. Jika di masa lalu pemimpin adalah orang-orang yang memberi perintah dan mengevaluasi. Sekarang pemimpin mendorong, bekerja bersama, dan berkontribusi bersama dengan bawahannya.
Ketika bicara inovasi, peran pemimpin terhadap anak buahnya harus rileks, dan bukan hanya top down seperti dahulu. Ketika pekerjaan inovasi dan kreatif diawasi ketat, maka kreativitas akan mandeg. Pemimpin harus menciptakan suasana kerja yang bisa berjalan sendiri. Atasan memberi keleluasaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Pemimpin hadir, ketika memang mereka membutuhkan untuk dipimpin.
Contoh, suatu tim harus berkordinasi dengan bagian yang lebih tinggi. Agar kordinasi berjalan dengan mulus, mereka membutuhkan pemimpin yang akan berkordinasi dengan pemimpin bagian lain. Selanjutnya mereka akan bekerja berkreasi seperti biasanya.
Miliki Segera Buku Transformational Leadership!
Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda... Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya... Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531 |
Agar inovasi lancar, pemimpin akan bertindak sebagai katalis. Ia menyediakan iklim kerja yang menyenangkan, suasana akrab yang mendorong orang menampilkan yang terbaik, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan persoalan menurut cara mereka sendiri.
Ini akan menimbulkan semangat dan keyakinan diri bahwa mereka bisa juga mengerjakan segala sesuatu sendiri, tanpa terlalu campur tangan pemimpin. Ketika orang diberi kesempatan seperti itu, harga diri orang akan naik, dan akibatnya mereka tidak akan menyalahgunakan kepercayaan itu. Pemimpin hanya memberikan arahan bahwa ada sesuatu yang harus kita capai, apa pun caranya, terserah kepada anak buah. Tentu, pemimpin siap hadir bila mereka benar-benar mengalami kesulitan.
Di sini terjadi simbiosis mutualisma, hubungan yang saling menguntungkan. Atasan tidak terlalu sering mengawasi, yang berarti ia bisa berpikir untuk hal-hal yang lebih strategis, dan bawahan bisa mengerjakan tugas dengan leluasa menggunakan kreativitas mereka. Atasan tidak lagi mengawasi langkah demi langkah penyelesaian tugas, akibatnya, mereka merasa dijadikan sebagai karyawan yang dewasa. Ketika karyawan merasa bisa bekerja sesuai dengan kemampuan sesungguhnya, hasil-hasil besar akan muncul.
Persoalan mengapa karyawan kurang bisa mengekspresikan kreativitasnya adalah karena model organisasi kita yang menekankan command and control. Anda harus mengerjakan ini, dan setelah itu kita awasi. Jika salah, anda kita tegur, jika benar? Ya, itu memang sudah tugas anda...
Ini yang membebani karyawan. Mereka diperintah, diawasi, dan selalu ditarget waktu. Tapi begitu berkait dengan inovasi, arahan itu tidak akan jalan. Kreativitas tidak bisa dipaksa-paksa. Ketika karyawan dipaksa, maka yang keluar adalah hasil-hasil yang mekanistik, hanya semata-mata hasil karya otak. Ketika hanya semata hasil karya otak, maka hasil-hasilnya pun sering tidak original. Mungkin hanya berupa perbaikan kecil dari produk yang ada.
Ketika karyawan berhasil menyadap kemampuan pemikiran yang lain, termasuk intuisi dan pikiran bawah sadar, hasil yang dicapai akan sering mencengangkan. Jika mereka terus diberi kesempatan berakrab-akrab dengan bawah sadar, tidak mustahil mereka akan menghasilkan produk yang benar-benar inovatif, produk yang benar-benar dibutuhkan oleh bawah sadar pembeli.
Apa yang sekarang ini dilakukan oleh perusahaan Jepang dalam menciptakan produk? Mereka sekarang ingin memenuhi keinginan bawah sadar dari pelanggan. Bahkan impian-impian pelanggan pun ingin mereka penuhi. Tidak percaya? Lihat saja produk televisi. TV layar datar sudah bagus, dikembangkan terus menjadi TV plasma. Mengapa harus ada TV plasma? Mungkin ada orang Jepang yang berpikir, karena ruangan tidak luas, sebagaimana rumah di Jepang, orang mungkin terpikir untuk punya televisi yang tipis, jadilah tv plasma.
Memunculkan inovasi seperti itu bisa terjadi jika karyawan diberi kesempatan sebebas-bebasnya untuk berkreasi. Ketika karyawan diberi kebebasan berkreasi, berarti mereka “terbebas” dari pengawasan pemimpinnya. Karyawan jelas senang diberi kebebasan seperti itu. Sebagai gantinya, mereka ingin berprestasi tinggi, dan menghasilkan terobosan-terobosan. Begitu berhasil, semuanya senang. Bawahan senang kreasinya dipakai, atasan senang karena dia dianggap mampu memimpin dengan baik. Maka terjadilah symbiotic leadership.
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |

Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
