Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
Jarum masih menunjukkan pukul 11.30 siang, ketika ia menatap jadwal rapat yang harus ia hadiri. Ia baru saja selesai dari dua rapat. “Masih dua rapat lagi, tapi rasanya energi ini benar-benar terkuras,” desis seorang dirut di ruang kerjanya. Rapat yang berlarut-larut dan tidak ada hentinya telah menyita tenaga dan pikirannya.
Ketika sampai di rumah jam 9 malam, matanya seolah tak mau kompromi, inginnya segera merem dan bermimpi, yang kadang tidak indah. Sering malam-malam ia geragapan bangun dan rasanya nafasnya berpacu begitu cepat ketika ia mengingat masih banyak target yang belum mampu ia laksanakan.
Pemegang saham dengan wajah dingin tanpa ekspresi seolah meremehkan kemampuannya. Padahal, ia sudah bekerja begitu keras. Rasanya ia tidak lagi sempat menatap merahnya senja, merdunya nyanyian burung di pagi hari, dan suara garengpung di pohon samping rumahnya. Suara garengpung ini adalah pertanda musim kemarau. Kemarau yang kering, sekering hatinya yang kepanasan karena terlalu banyak beban.
Ketika ia belum menjadi dirut, rasanya ia masih mampu mengamati tumbuhnya pohon terong yang ia tanam di rumahnya, atau nyanyian fals dari anak-anaknya.
Sekarang, ia capai, jenuh, dan bingung akan dibawa ke mana perusahaan itu. “Ah, inilah yang namanya sawang-sinawang, saling pandang memandang. Ketika aku belum jadi dirut, aku membayangkan betapa enak dan empuknya jabatan itu. Mobil mewah, gaji besar, bepergian dan menginap di hotel bintang empat."
Tapi nyatanya, kilau wastafel dan bathtub di hotel-hotel tidak ia nikmati. Bagaimana mau menikmati dan berendam sambil menggosokkan jeli pada tubuhnya ketika orang yang bertamu hingga tengah malam? Apa mau berendam jam 1 malam? Bisa flu berat besoknya.
Pagi hari jam 6, ia sudah harus hadir di lapangan golf. Kepala cabang di kota itu mengajaknya golf bersama pejabat pemda setempat. Sore hari, ia harus meninggalkan kota itu untuk rapat lagi di Jakarta…
Informasi Seminar / Pelatihan
|
Ini adalah tipikal kesibukan seorang pimpinan puncak, bisa sebuah BUMN atau BUMS.
Jika anda dari melakukan perjalanan dari Semarang ke Yogyakarta, anda akan melewati tempat retreat bagi pemeluk agama Katolik. Di sana mereka berdiam diri menekuni kitab Suci Injil. Mereka merenungi perjalanan hidup yang sudah mereka lalui, dan kemudian merencanakan kira-kira apa yang akan mereka lakukan pada sisa masa hidup mereka. Suasananya sepi, adem, memang cocok untuk merenung.
Setelah retreat, orang-orang itu akan merasa segar, jiwanya penuh dengan semangat, dan siap menghadapi tantangan kehidupan dengan kekuatan yang lebih besar.
Di perusahaan, apakah ada kegiatan retreat seperti itu? Anda pasti menjawab ada, atau malah sering. Serombongan manajer, GM, direksi menyepi ke Puncak, Cianjur, atau ke Lembang Bandung, atau ke tempat wisata lainnya. Mereka menyewa hotel, menginap, dan… untuk merenung, untuk berkontemplasi? Tidak. Mereka ke sana untuk rapat.
Kadang rapat sampai jam 11 malam. Biasanya materinya juga sangat banyak. Bahkan agar pembahasan efektif, peserta dibagi dalam komisi-komisi. Tempat yang indah, yang tenang, damai, tidak terasa lagi. Yang terasa adalah beban kerja yang lebih berat, rapat yang tidak kunjung berhenti, dan tahu-tahu besok harus kembali ke kantor lagi untuk menjalani rutinitas seperti biasa.
Para petinggi perguruan tinggi di Inggris dan Wales, ternyata sangat memujikan manfaat retreat itu. Mereka retreat di tempat yang indah, dan pesertanya dari berbagai perguruan tinggi. Mereka retreat hanya sekedar untuk networking, untuk sharing pengalaman, untuk mendengar kisah-kisah kepemimpinan yang menggugah jiwa, dan bukan untuk rapat.
Ketika mereka disuruh menulis komentar program retreat ini mereka berkata, “Saya tersegarkan, terinspirasi, dan program ini memang sesuai dengan janji-janji yang mereka canangkan.”: Lainnya berpendapat, “Bagian yang terbaik adalah, ‘keluar dari tempat kerja’ untuk berpikir, sharing, merenung, dan untuk belajar.” (Hooton, 2004).
Apakah sebagai pemimpin kita tidak terpikir untuk retreat seperti mereka? Tidak bisakah rapat luar kota yang selama ini kita lakukan sebagai sarana merenung? Kira-kira inilah yang bisa dilakukan ketika retreat di luar kota, di tempat yang indah dan sunyi.
Jika retreat seperti itu tidak mungkin, anda bisa melakukannya sendirian. Caranya, di pagi hari sebelum melakukan sesuatu, duduklah diam-diam saja. Jangan membaca buku, jangan mendengar radio atau melihat televisi. Biarkan pikiran melayang. Kalau bisa lakukan selama setengah jam. Jika anda bisa melakukan hal itu sebagai kegiatan sehari-hari, nantikanlah gagasan-gagasan cemerlang akan mendatangi anda.
Orang-orang bijak di masa lalu sudah memahami pentingnya duduk diam ini. Karya-karya luar biasa di masa lalu tercipta karena penciptanya lebih banyak berdiam diri. Saat berdiam diri itulah saat yang sangat berharga. Inilah paradoks di dunia kita, justru yang berdiam diri malah menghasilkan hasil-hasil besar daripada orang yang sehari-hari sibuk bergentayangan ke sana kemari…
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |
Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
