Anda ingin memperbaiki kinerja penjualan anda? Manfaatkan Kecerdasan Emosi. Mengapa? Karena penjualan adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Kata kuncinya adalah pada kecerdasan emosi yang mutlak harus anda miliki jika anda ingin meningkatkan penjualan secara dramatis...Baca artikel selengkapnya |
Bagaimana Menjadi Pemimpin Karismatik, dengan mudah, praktis, dan cepat... Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya. Baca artikel selengkapnya |
Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar… Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan. Baca artikel selengkapnya |
Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
“Anda orang cerdik, bukan?” tanya Daniel Petrocelli, pengacara bekas dirut Enron. “Ya,” jawab Jeffrey Skilling, sang bekas dirut Enron di hadapan pengadilan federal AS pada tanggal 11 April 2006 - 2007.
“Anda cukup pintar bukan menjadi otak konspirasi dan memimpinnya bertahun-tahun sebelum ditangkap?” desak jaksa penuntut umum
“Saya tidak berpikir begitu,” jawabnya. Dengan keyakinan tinggi sebagai seorang dirut, ia memaparkan berbagai strategi yang telah dilakukannya. Sidang diteruskan...
Itu adalah salah satu sidang yang menghadirkan dirut Enron sebagai terdakwanya.
Akhir-akhir ini kita sering mendengar beberapa dirut perusahaan kelas dunia mulai dari Enron, Wordcom, Andersen Consulting yang dituduh berbuat kriminal.
Di negeri kita, beberapa dirut BUMN juga dituduh korupsi. Mulai dari dirut Bank Mandiri, Jamsostek, hingga dirut PLN yang saat ini masih sebagai tersangka.
Tentu kita berpikir, ada gejala apakah ini? Di dunia, di Indonesia, para pemimpinnya melanggar hukum. Apakah gaji mereka belum cukup? Apakah fasilitas yang mereka nikmati belum memuaskan mereka sehingga mereka masih harus korupsi?
Tidak mudah memang mencari alasan mengapa mereka berbuat seperti itu.
Walau ada “oknum-oknum” pimpinan menyimpang, selalu saja kita tertarik kepada kepemimpinan. Memang sangat wajar orang tertarik ke sana. Yang belum menjadi pemimpin, ingin menjadi pemimpin. Yang sudah memimpin, ingin naik lebih tinggi lagi, atau paling tidak bisa mempertahankannya selama mungkin.
Selama mungkin? Ah, sejarah menjadi bukti tak terbantahkan. Soeharto, Sadam, Marcos ingin berkuasa terus. Jika ingin terus berkuasa, apakah yang mereka cari lagi? Kekayaan, wah sudah tidak terhitung. Terus apa?
Miliki Segera Buku Transformational Leadership!
Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda... Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya... Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531 |
“Guru” bisnis dunia, Jim Collins, terus saja mengamati kiprah para pahlawan dunia bisnis di seluruh dunia. Nama-nama harum yang terukir di buku-buku bisnis sebagai pendekar-pendekar yang bisa memajukan bisnis secara radikal, perlahan terkikis. Sekarang ini pahlawan yang masih tinggal hanyalah Jack Welch (bekas dirut General Electric) dan Bill Gates (pendiri Microsoft).
Menurut seorang bekas dirut dan seorang penulis, Bill George, banyak pemimpin di generasinya gagal. Alasan utama kegagalan mereka adalah dalam mengacaukan pengertian kekayaan dan sukses. Jika anda kaya, pastilah anda sukses. Jika belum kaya, pastilah anda belum sukses.
Gara-gara mengejar kekayaan inilah (termasuk kekayaan pemegang saham tentunya), para pemimpin itu “bermain” atau memainkan perusahaan hanya demi mengejar laba besar dan makin tingginya keuntungan pemegang saham.
Namun permainan ini sangat membahayakan. Para pemimpin itu menjadi sangat sibuk memikirkan jangka pendek. Akibatnya, kelanggengan, kelangsungan perusahaan di masa depan menjadi terancam.
Tapi kita tidak bisa menyalahkan mereka. Ketika saya menjadi direktur perusahaan swasta, tekanan untuk segera mencapai target memang sangat tinggi. Ketika tekanan demikian tinggi, jelas hal-hal yang sifatnya strategis, jangka panjang terabaikan.
Dari penelitian terhadap para pemimpin, Jim Collins tadi menemukan bahwa para pemimpin yang besar, dikenang prestasinya, setelah mereka tidak menjabat. Para pemimpin ini dengan semangat untuk meninggalkan warisan yang berharga, bekerja tanpa terlalu memperhitungkan hasil sekarang. Ini seperti menanam pohon mangga. Walau anda yang menanam, belum tentu anda yang akan menikmati. Generasi penerus anda yang menikmati karya anda.
Ketika anda hadir menjadi pemimpin, sebaiknya anda pun bersikap demikian. Ini jelas membutuhkan pergeseran paradigma, apalagi rentang waktu memimpin yang hanya 3 – 5 tahun. Jelas dibutuhkan jiwa besar dan kuat untuk mampu bertahan dari tekanan pemegang saham agar selalu berorientasi pada laba kuartalan atau tahunan. Pemimpin yang kuat ini akan berjuang agar visinya bisa tercapai. Apa yang ia lakukan adalah meletakkan landasan bagi generasi selanjutnya. Ia berlaku seperti pohon pisang, yang mati demi melahirkan pohon-pohon pisang yang lebih banyak.
Jika kepemimpinan seperti itu, maka ini yang dinamakan dengan distributive leadership, kepemimpinan yang dibagikan. Pemimpin seperti ini menganggap dirinya sukses jika ia mampu menciptakan lebih banyak lagi pemimpin dalam organisasinya.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati, meninggalkan nama dan jasa. Inilah nampaknya yang perlu diperhatikan oleh para pemimpin. Berjuanglah terus, sepanjang apa yang anda lakukan benar dan didukung oleh nurani, lakukan saja terus. Janganlah terlalu memikirkan komentar orang.
Abraham Lincoln mengatakan dengan anggun, ”Andaikata saya melakukan sesuatu yang benar, 10.000 malaikat pun akan saya lawan dan saya jalan terus. Namun andaikata saya melakukan yang salah, walau 10.000 malaikat mengatakan benar, saya akan berhenti.” Karena filsafatnya seperti itu, maka pantas saja ia bisa menjadi pemimpin besar sepanjang masa.
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |

Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
