Menjual dengan Kecerdasan Emosi

Anda ingin memperbaiki kinerja penjualan anda? Manfaatkan Kecerdasan Emosi. Mengapa? Karena penjualan adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Kata kuncinya adalah pada kecerdasan emosi yang mutlak harus anda miliki jika anda ingin meningkatkan penjualan secara dramatis...Baca artikel selengkapnya

Menjadi Pemimpin Karismatik

Bagaimana Menjadi Pemimpin Karismatik, dengan mudah, praktis, dan cepat... Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya. Baca artikel selengkapnya

Atasan Yang Sangat Menjengkelkan...

Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar…

Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan. Baca artikel selengkapnya

Mitos, Adakah Perannya dalam Transformasi Organisasi?

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )

“Ya, saya yakin betul. Lha, selama ini Sang Ratu yang begitu bermurah hati memberi kita ikan. Bahkan bila ada bahaya biasanya ada ‘sasmita’ ada tanda-tanda sehingga kita tidak melaut…” Ini adalah komentar para nelayan di pantai selatan Jawa tentang yakin tidaknya mereka dengan mitos nyai Roro Kidul.

“Selama Eyang di sana belum memberi wangsit, saya kira keadaan kita masih aman. Bukankah selama ini kita sudah rutin memberi sajen, sesaji kepada para dahnyang di sana?” Begitulah keyakinan masyarakat lereng Merapi yang percaya bahwa letusan Merapi lebih karena adanya “mantu, atau hajatnya” para lelembut penghuni Merapi.

Karena mereka sudah “caos dahar” atau memberi makanan, maka, berdasar prinsip win-win, semestinya mereka juga tidak akan membahayakan penduduk sekitar Merapi.

“Eit, jangan bicara sembarangan. Di sini “sumare” atau ada makam Mbah Kyai Semar lho. Tidak percaya, lihat kuburan yang panjangnya dua tombak itu,” Seru seorang tua ketika beberapa anak muda berceloteh sembrono di puncak Gunung Tidar Magelang.

“Sabuk pusaka ini jangan pernah terlangkahi lho, nanti kualat dan bisa sakit. Tiap malam Jumat Kliwon, ujung besi di sabuk itu harus dimandikan dengan air dicampur kembang setaman. Sebelumnya, bacakan Al Fatihah dan Kulhu 3 kali, setelah itu baru “matur” kepada Eyang yang ada di sabuk itu. Kalau tidak…” Ini adalah arahan kepada orang yang baru saja menerima sabuk pusaka yang diyakini bisa membuat pemakainya disayangi orang, serta yang lebih penting, bisa membuat diri orang itu berwibawa sehingga mudah naik pangkat dan jabatan.

Bahkan, ada bonus tambahan, jika tiap hari mengirim doa Kulhu 7 kali, orang itu akan banjir rejeki. Rejeki akan berebut mendatangi orang itu seolah ia magnit yang mampu menarik segala yang terbuat dari besi.

Miliki Segera Buku Transformational Leadership!

Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda...

Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul.

Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya...

Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu

Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531

Si Dwi ini ngomong apa? Ngomong manajemen apa mitos? Mitos. Saya memang sedang membahas mitos.

Ketika para nelayan di pantai selatan Jawa mempercayai mitos Nyai Roro Kidul, mereka tidak berani sembarangan ketika sedang di laut. Kata-kata mereka sopan, jika tidak sopan, mereka takut “dimurkai” Sang Ratu, dan salah-salah bisa “dibawa” ke kerajaan laut selatan dan dijadikan “employee” di sana.

Ketika orang-orang di lereng Merapi yakin terhadap mitos tentang adanya kerajaan makhluk halus di puncak Merapi, hal itu mempengaruhi perilaku mereka. Ketika pasir-pasir dan batu yang diangkut oleh ratusan truk mulai menyusut, keluarnya lahar Merapi, diartikan sebagai “kemurahan” penguasa Merapi terhadap penduduk. Karena yakin bahwa terjadi hubungan simbiosis mutualisma antara penduduk dan penguasa Merapi, maka mereka yakin tidak akan terkena bencana letusan Merapi.

Lelaki yang bersabuk pusaka yakin sangat takut melangkahi sabuknya karena kuatir jangan-jangan keampuhan sabuknya berkurang. Tiap malam Jumat Kliwon, ia sudah “membersihkan dirinya” untuk kemudian memandikan pusaka sekaligus “memberi makan” berupa bunga setaman kepada penghuni sabuk. Mengapa ia mau melakukan hal itu? Karena ia percaya. Apakah ada bukti ilmiah yang mendukungnya? Bukti ilmiah apa, wong ini sudah keyakinan kok, ini sudah mitos…

Pertanyaan yang muncul adalah? Sangat tidak masuk akal untuk mempercayai mitos itu. Tapi jika anda orang Jawa Tengah bagian selatan, Yogya, atau daerah pantai selatan, beranikah anda bicara bahwa Ratu Kidul tidak ada? Beranikah anda menghinanya? Atau yang lebih ekstrim, beranikah anda di pantai laut selatan Jawa dan mengatakan keras-keras di pinggir laut bahwa penguasa laut “kidul” hanya isapan jempol, dan bohong belaka? Saya duga anda tidak akan berani. Mengapa? Karena anda adalah orang sekitar daerah itu. Anda sudah “terbius” oleh mitos itu.

Bahkan jika anda yang orangnya agamis, paling hanya mengatakan, “Menurut saya, yang namanya Ratu Kidul itu adalah ratu jin. Jika ia jin, saya percaya, bukankah menurut Islam, jin itu memang ada?” Kesimpulannya? Anda setengah percaya dan tidak bukan?

Inilah yang dinamakan dengan mitos. Mitos (myths) ini ternyata juga ada di perusahaan atau organisasi.

Stephens and Eisen (1998) menggarisbawahi pentingnya mitos dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah pendapat mereka, “…mitos adalah semacam ‘kebenaran’ yang membimbing kita. Ia mengarahkan kita ketika kita mengambil keputusan. Ia membimbing kita dalam menjalani kehidupan kita, ia menentukan apa yang seharusnya kita lakukan, dan juga ia menentukan apa yang seharusnya kita pikirkan dan rasakan.”

Berarti mitos juga berlaku pada organisasi? Ya, jelas sekali. Mengapa? Karena organisasi adalah kumpulan orang-orang. Apa beda antara anda yang berada dalam masyarakat yang beranggotakan “karyawan BUMN” dan para nelayan di pantai Selatan Jawa. Perilaku anda diikat oleh aturan-aturan yang tertulis, dan yang paling banyak yang tidak tertulis. Apakah para nelayan itu melihat aturan tertulis untuk menghormati Nyai Roro Kidul? Tidak ada.

Apakah anda melihat aturan tertulis untuk menyerang secara terbuka kebijakan direksi anda? Tidak ada bukan. Mengapa anda berbuat seperti itu? Karena ada mitos. Barangkali di masa lalu anda mendengar ada orang yang berani menentang kebijakan direksi secara langsung, dan anda menyaksikan betapa orang itu kemudian “meringkuk” di sudut ruangnya karena dikucilkan dan dihambat karirnya oleh direksi. Bahkan perilaku itu oleh direksi sering diceritakan di mana-mana, sehingga akhirnya menjadi “mitos” yang tidak pernah dipertanyakan lagi kebenarannya, bahkan setelah ganti direksi.

Gabriel (2000) dalam bukunya yang menarik, Storytelling in Organizations, dengan jelas membedakan antara cerita biasa dan mitos. Menurutnya, cerita hanyalah kisah biasa saja, tidak ada unsur hebat, kompleks, dan mengubah keadaan. Sedangkan mitos adalah sesuatu yang unik, tidak umum, dan kadang ada unsur pahlawan. Mitos itu mempengaruhi perilaku yang sering tidak disadari oleh karyawan.
Kalau cerita biasa, tidak ada unsur sakralnya, sementara mitos dianggap mengandung nilai-nilai kebenaran, sakral dan kadang ekstrim.

Ketika dikaitkan dengan organisasi, cerita bisa menjadi mitos ketika para karyawan sering menceritakan kisah itu berulang-ulang. Ketika menceritakan, kadang emosi si pencerita bisa terlibat di dalamnya.

Perhatikan kata kuncinya, mitos bisa benar atau tidak. Tapi intinya adalah mitos mampu mengarahkan perilaku seseorang.

Di industri perposan, ada mitos bahwa semua kiriman harus ada alat untuk melacaknya, atau dinamakan track and trace. Agar track and trace bisa efektif, sebaiknya memakai komputer dan internet. Karena ini jadi mitos, maka perusahaan tempat saya bekerja (PT. Pos Indonesia) sangat mendukung track and trace itu.

Ketika pertumbuhan jasa pos menurun, sesuai dengan mitos, pasti penurunan itu karena tidak ada track and trace. Anehnya, belum ada satu penelitian yang ilmiah yang mendukung mitos itu. Tapi yang namanya mitos, tidak perlu didukung penelitian. Yang pokok ia mempengaruhi perilaku karyawan. Akibat adanya mitos itu, maka ketika jasa pos tanpa ada track and trace, selalu saja kegagalan mencapai target karena tidak ada atau buruknya track and trace itu.

Cerita biasa bisa menjadi mitos jika diceritakan berulang-ulang oleh karyawan, kapan saja. Mitos track and trace ini memang selalu diceritakan setiap saat dalam rapat-rapat. Ketika ingin memperbaiki kualitas, selalu bicara track and trace. Apakah benar demikian? Saya tidak tahu, bukankah itu hanya mitos?

Terus apa kaitannya dengan transformasi organisasi? Peran mitos sangat besar. Mengapa? Karena ia mengatur, walau tanpa sadar, perilaku karyawan. Ingat, ketika kita melakukan perubahan, dinamakan managing change, yang kita ubah adalah orang-orangnya. Orang-orang, sebagaimana juga masyarakat lereng Merapi, sangat terikat kepada mitos-mitos tadi.

Jika ada inisiatif perubahan dan ternyata hanya mandeg di tengah jalan, cara yang bisa kita percaya adalah dengan melihat pengaruh mitos di organisasi itu. Caranya adalah dengan mendengarkan secara terbuka apa saja yang selalu dikatakan oleh para karyawan. Dengarkan mereka bicara. Anda bisa mengkategorikan apa yang anda dengar ke dalam tiga kelompok.

Kelompok satu adalah cerita yang unik yang disampaikan oleh satu atau dua orang. Contoh, ada orang yang sering malu karena dimaki oleh pelanggan.  Kelompok kedua adalah cerita yang saling bertindihan antara pencerita satu dengan lainnya. Contoh, ada orang yang bercerita tentang pengalaman yang kemudian ditimpali oleh orang lain, dan orang lain menimpali cerita itu.

Yang ketiga, adalah cerita umum. Dengarkan baik-baik cerita umum ini. Ketika anda mendengar, sering tema itu muncul berulang-ulang. Ketika anda berganti mendengarkan karyawan lain, cerita itu muncul terus. Sebaiknya anda waspada, jangan-jangan ini menjadi mitos perusahaan.

Catat baik-baik cerita umum itu. Kemudian lihatlah secara mendalam, bagaimana pengaruh cerita-cerita itu terhadap perilaku karyawan. Apakah ada yang membuat karyawan bersemangat, atau malah banyak cerita yang melemahkan semangat. Apa pun bentuknya, baik membangkitkan atau melunturkan semangat, cerita bisa menjadi mitos jika itu kemudian dipercayai oleh karyawan. Karyawan menjadi “terbius” oleh mitos itu.

Jadi ketika anda mengubah organisasi, anda tinggal melihat sekelompok mitos tadi. Jika memang banyak mitos yang menghambat, maka anda akan mengerti mengapa perubahan tidak jalan.

Jika memang ada mitos yang menghambat, kemukakan mitos itu kepada karyawan. Analisislah mengapa kita terikat mitos itu. Apa bukti kongkrit dari mitos itu? Kapan mitos itu mulai muncul? Ceritakan juga akibat-akibat dari mitos penghambat itu.

Anda ingin melihat mitos di perusahaan anda? Gampang. Ada mitos yang berlaku di mana saja, yaitu, agar perusahaan anda menang dalam persaingan anda harus memakai komputer di mana-mana. Gara-gara mitos ini, perusahaan menganggarkan dana yang besar untuk komputerisasi. Apakah perusahaan itu langsung melejit dan menang dalam persaingan? Anda bisa menjawabnya sendiri.

Jadi mulai sekarang, rajinlah mendengarkan obrolan dan cerita-cerita di perusahaan anda, niscaya anda akan menemukan banyak mitos di sana…

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...

Politeknik Pos Indonesia
Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.