Anda ingin memperbaiki kinerja penjualan anda? Manfaatkan Kecerdasan Emosi. Mengapa? Karena penjualan adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Kata kuncinya adalah pada kecerdasan emosi yang mutlak harus anda miliki jika anda ingin meningkatkan penjualan secara dramatis...Baca artikel selengkapnya |
Bagaimana Menjadi Pemimpin Karismatik, dengan mudah, praktis, dan cepat... Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya. Baca artikel selengkapnya |
Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar… Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan. Baca artikel selengkapnya |
Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
“O, kalau mbah Dewo itu sakti. Dia bisa mengobati orang sakit. Malah air ludahnya itu bisa menyembuhkan lho! Dengan air liurnya tinggal dioleskan ke tempat yang sakit, terus byar, penyakitnya sembuh!” Begitu cerita Pak Warso, tetangga saya ketika saya masih anak-anak. Dia kemudian bercerita panjang lebar betapa mbah Dewo itu dinamai begitu karena kesaktiannya bak dewa di kahyangan.
Waktu itu seolah lingkungan sekitar terkait dengan klenik semua. Agar para demit di perempatan jalan tidak marah, maka dipasangi sesaji berupa sayur tahu tempe. Telur, apalagi daging ayam, tidak disertakan, soalnya pada waktu itu masih dianggap barang mewah.
Kesibukan orang-orang saat itu adalah mendatangi “orang-orang pintar” untuk mencari wangsit, ilham yang bisa diterjemahkan dalam angka nomor, yang selanjutnya bisa “ditembakkan” pada Nalo, atau buntutan yang ditarik tiap minggu. Jika “gol” maka besoknya bisa makan besar, sedang jika “blong” jelas sedikit kecewa, tapi harapan selalu tumbuh barangkali minggu depan nomornya “keluar” dari paginya bisa foya-foya.
Saat itu, mendengar pidato Bung Karno menjadi kegemaran sendiri. Waktu itu, saya ingat partai politik meneriakkan yel-yel, “Telo bakar enak legi, noblos Golkar ojo wedi.” Jelas, lagu genjer-genjer dilarang keras, nanti bisa “diciduk” karena dianggap aspiran PKI.
Di masa itu, kesusahan hidup memang amat menghimpit. Sepulang sekolah saya dan kakak perempuan saya, harus antri beras. Masing-masing orang mendapat jatah 2,5 kilogram, dan kami rela antri hingga 2 – 3 jam, di toko beras “Bah Ho.”
Miliki Segera Buku Transformational Leadership!
Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda... Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya... Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531 |
Walau demikian, hiburan jalan terus. Saya pernah diajak sekali nonton bioskop. Saya ingat judul filmnya, “Beranak Dalam Kubur” yang dibintangi oleh Suzanna. Walau saya baru usia 8 – 9 tahun, saya sedikit-sedikit bisa “menangkap” adegan syur di sana…
Menghadapi bangsa yang sukar makan, membutuhkan pemimpin yang bisa memberi makan. Pemimpin setelah Bung Karno, Pak Harto, amat pandai melihat keadaan. Diluncurkannya program kemakmuran dan pembangunan, mulai dari Pelita I sampai V. Melalui pembangunan, lepas dari pemerintah diktatornya, rakyat hidup lebih sejahtera. Antri beras tidak ada lagi, kebutuhan sehari-hari tersedia melimpah.
Jangan tanya pula tentang hutang negara. Rakyat tidak tahu wong tidak pernah bicara tentang hutang, yang ada adalah “bantuan luar negeri.” Rakyat saat itu juga tidak peduli terhadap hutang itu, wong, keadaan sehari-hari jauh lebih baik dibanding tahun 60 – 70 an.
Waktu berpacu dengan cepatnya. Ketika saya SMA, film yang saya tonton (juga pertama kali setelah remaja) adalah Gita Cinta di SMA, bintangnya Rano Karno dan Yessy Gusman. Pak Harto, di masa itu, adalah pemimpin yang dianggap luar biasa. Bahkan para artis pun kagum dan membuat lagu Bapak Pembangunan.
Kekaguman rakyat nampak jelas ketika presiden itu mampu bicara dengan “penuh ramah, bijaksana dan kebapakan” pada temu wicara dengan petani. Saat itu dia mampu menyebut angka-angka produksi padi, kebutuhan pupuk dan sebagainya. Saat itu, berdasar pengalaman saya, tidak terasa adanya bungkaman untuk bersuara, apalagi mengkritik presiden.
Sekarang ini, di usia 44, film yang sering saya tonton, berupa science fiction seperti Batman, Spiderman, Superman, Jet Lee, Jackie Chan, dan Arnold. Jika di masa saya SMA lagu kesayangan adalah Ebiet dan Chrisye, sekarang saya senang lagu Jawa Campur Sari Gunung Kidul, dan…Keroncong.
Ketika saya menyetel dari MP3 player lagu-lagu lama seperti Betaria Sonata, anak lelaki saya (umur 8 tahun) mengatakan pada ibunya, “Ma, itu lagu Jawa ya?” Bagaimana mungkin anak saya yang keturunan orang Jawa Tengah, tidak bisa membedakan lagu masa lalu yang mendayu-dayu dengan lagu jawa.
Ketika saya menyetel lagu-lagu lama itu, anak saya SMP, mengatakan, “Bapak itu kuno, senengnya lagu-lagu jelek…” Jelas dalam hati saya berontak, “bagaimana bisa dianggap jelek, wong lagi begitu indah kok dibilang jelek.”
Ketika saya tengok kaset-kasetnya, hampir semuanya lagu-lagu Barat. Ketika saya coba dengarkan, wah, musiknya pada gedombrangan, tidak ada larasnya.
Apa kaitan cerita-cerita itu dengan kepemimpinan? Inilah dunia yang kita hadapi. Ketika kita memimpin ada berbagai generasi yang menghiasi organisasi. Ada generasi yang lahir tahun 50 an, atau kalau di Amerika dinamakan sebagai Baby Boomers. Ada yang lahir tahun 60 an, dan ada yang lahir tahun 70 an dan 80 an.
Pertanyaan yang muncul adalah, apakah ada perbedaan persepsi mereka tentang para pemimpinnya? Atau, kira-kira mereka mengidolakan pemimpin yang bagaimana jika mereka harus bekerja? Bagaimana beda generasi itu mempengaruhi perilaku organisasi dari anggota organisasi tersebut?
Dari penelitiannya Arsenault (2004) ingin menemukan apakah memang ada “generation gap” antar berbagai generasi di Amerika. Di sana dikenal namanya generasi veteran, yang lahir 1922 – 1943. Baby boomers lahir antara 1944 – 1960. Generation Xers lahir antara 1961 – 1980, dan Generation Nexters yang lahir antara 1981 – 2000.
Zemke (2000) melihat bahwa generasi veteran adalah generasi yang menjunjung tinggi dedikasi, kerja keras, dan patuh kepada penguasa. Baby boomers menjunjung tinggi optimisme, penghargaan pertumbuhan pribadi.
Generation Xers (saya termasuk) lebih menghargai adanya perbedaan, kepahaman teknologi, ingin senang-senang, dan membenci formalitas. Generation Nexters menghargai optimisme, kewajiban sosial, keyakinan diri, dan prestasi.
Dengan melihat kepada amatan Zemke tadi, pasti sudah terbayang betapa bedanya perlakuan pemimpin kepada kelompok generasi itu. Ketika, serangan teroris WTC 11 September 2001, para veteran mungkin teringat pengalaman perang dahulu. Mungkin saat itu timbol rasa patriotic mereka. Sedangkan generasi Nexters yang jelas tidak mengalami perang dan masa sulit, menyadari adanya keadaan yang tidak aman. Mereka tidak lagi merasa terkotak-kotak antar negara seperti dulu. Dengan internet mereka bisa bersahabat dengan anak bangsa dari mana saja.
Bagi baby boomers, banyak yang sudah pensiun atau siap-siap pensiun. Apa yang dianggap penting oleh baby boomers, mungkin tidak dianggap pokok oleh generasi Nexters tadi.
Dari penelitian Arsenault tadi diperoleh kesimpulan bahwa memang ada perbedaan yang berarti dalam melihat pemimpin. Jika generasi veteran ingin dipimpin oleh pemimpin yang tegas seperti pahlawan, di mana rantai hirarki dijaga betul, generasi sekarang lebih menuntut pemimpin yang bisa mengakomodasi kreativitas mereka dalam bentuk tim-tim lintas fungsi.
Yang paling menarik dari penelitian Arsenault adalah walau berbeda generasi, semua generasi sepakat, bahwa pemimpin idola adalah pemimpin yang menjunjung tinggi kejujuran. Pentingnya pemimpin jujur ini juga dibuktikan oleh peneliti Kouzes dan Posner (2002). Artinya, jika anda sebagai pemimpin, “senjata utama” menghadapi berbagai generasi angkatan kerja, jika anda ingin sukses, maka anda harus jadi pemimpin jujur.
Dua hal yang juga dipandang sama pentingnya oleh berbagai generasi, setelah kejujuran adalah kompetensi dan loyalitas. Berarti, kita sebagai pemimpin harus selalu meningkatkan kompetensi kita, dan juga loyal kepada organisasi kita. Karena sebagian generasi bawahan adalah generasi saat ini, maka jika kita ingin mengidolakan pemimpin, menurut peneliti tadi, adalah dengan menampilkan tokoh saat ini seperti Bill Gates atau Tiger Wood. Mereka itulah tokoh-tokoh yang paling sukses di bidangnya.
Jelas kurang terasa gregetnya jika menceritakan kepahlawanan Theodore Roosevelt atau kepiawaian Ronald Reagan membangkitkan ekonomi Amerika.
Untuk negeri kita, jelas kurang terasa menginspirasi ketika menceritakan Bung Karno atau Pak Harto atau Jenderal Yusuf kepada anak-anak umur 20 – 30 tahun yang ada di kantor kita. Mungkin ada hikmahnya jika kita mengajarkan semangat pantang menyerah kepada generasi saat ini dengan menceritakan betapa susah payahnya para peserta AFI Indosiar. Para peserta AFI itu ternyata tiap hari harus berlatih, dimarahi, dimaki, namun akhirnya mampu tampil menjadi bintang.
Pelajarannya, sukses memang butuh perjuangan keras, dan itu yang harus kita katakan kepada mereka. Mengapa saya menekankan hal ini? Karena dari pengamatan saya, termasuk anak muda dan mahasiswa saya, mereka ingin segalanya instant. Walau baru lulus dari akademi atau universitas, inginnya bergaji besar dan menjadi manajer. Mereka lupa bahwa untuk menjadi besar mereka harus merintis setahap demi setahap. Cerita tentang Bill Gates, Tiger Wood, AFI bisa mengispirasi dan membangkitkan semangat mereka.
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |

Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
