Menjual dengan Kecerdasan Emosi

Anda ingin memperbaiki kinerja penjualan anda? Manfaatkan Kecerdasan Emosi. Mengapa? Karena penjualan adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Kata kuncinya adalah pada kecerdasan emosi yang mutlak harus anda miliki jika anda ingin meningkatkan penjualan secara dramatis...Baca artikel selengkapnya

Menjadi Pemimpin Karismatik

Bagaimana Menjadi Pemimpin Karismatik, dengan mudah, praktis, dan cepat... Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya. Baca artikel selengkapnya

Atasan Yang Sangat Menjengkelkan...

Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar…

Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan. Baca artikel selengkapnya

Mencari 'Tanah Harapan' melalui E-Transformasi

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )

Kapal besar itu siap-siap berlayar. Pelayaran ini sangat istimewa karena akan menuju ke perairan yang belum terpetakan. Wajah gembira campur sedikit ‘nervous’ terpancar di wajah penumpang dan para anak buah kapal. Mesin mulai hidup dan kapal mulai bergerak. Angin bertiup kencang dan kapal mulai tergoncang oleh mesin dan ombak. Namun goncangan makin besar.

Banyak penumpang yang letih karena goncangan dan bahkan ada yang mulai mabuk laut. Begitu mereka melihat ke arah luar, ternyata kapal masih ditempat semula. Ternyata jangkarnya masih tertambat di pelabuhan. Pantas kapal tidak bisa berlayar.

Inilah yang banyak terjadi ketika perusahaan melakukan transformasi. Mereka lebih sibuk di dalam perusahaan daripada mengurusi masalah terpenting yaitu pelanggan.  Semua pegawai sibuk bertransformasi, tapi manfaat yang nyata tidak dirasakan oleh pelanggan.

E-Transformasi

E-transformasi adalah proses dan upaya mengubah kondisi sekarang perusahaan menjadi kondisi yang diinginkan di masa datang dengan memanfaatkan teknologi informasi / komunikasi sebagai pendukung proses itu. Intinya adalah agar layanan yang diberikan makin memberikan value yang makin tinggi bagi pelanggan, dan jika itu terjadi, akan bisa melindungi perusahaan dari persaingan yang makin ketat.

Langkah terbaik transformasi adalah mulai dari pelanggan. Dahulukanlah customer value chaindaripada supplier value chain. Mengapa demikian? Karena pelangganlah yang membayar perusahaan.

Demikian pentingnya pelanggan sampai-sampai ada buku yang berjudul Complaint as a Gift di mana buku itu menganggap keluhan adalah hadiah bagi perusahaan.

Bahkan Bill Gate dari Microsoft mengatakan agar karyawannya menyambut berita buruk sebagai berita baik. Maksudnya adalah dengan adanya berita buruk dari pelanggan yang cepat masuk ke karyawan terkait, maka akan bisa segera diambil langkah perbaikan yang perlu. Jika anda pakai Internet Explorer, dan jika terjadi software error, maka di layar akan tampil pesan apakah kesalahan ini akan dilaporkan ke Microsoft atau tidak. Jika ya, kita tinggal tekan tombol OK, dan secara otomatis error itu akan sampai ke Microsoft.

Miliki Segera Buku Transformational Leadership!

Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda...

Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul.

Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya...

Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu

Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531

E-Culture

Transformasi melibatkan orang-orang. Orang pada dasarnya tidak ingin berubah. Apalagi jika perubahan itu mengancam dirinya atau kedudukannya. Oleh karenanya mempersiapkan karyawan untuk transformasi merupakan masalah yang penting. Jika resistansi karyawan terhadap transformasi tinggi, maka sebaiknya lakukan perubahan secara bertahap. Jika perlu mereka dilatih, jadikan mereka mem ‘buy-in’ program transformasi sehingga resistansi akan berkurang.

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah membuat aplikasi berbasis web yang langsung terkait dengan karyawan seperti SIM SDM, Absensi, Gaji, dsb. Setelah mereka terbiasa dengan aplikasi berbasis web, mengubah sikap mereka untuk beralih kepada aplikasi lain yang mendukung transformasi akan makin mudah.

Pernyataan Bill Gate: “Ultimately, the most important speed issue companies is cultural, “ cukup memberi pencerahan kepada kita tentang perlunya mempersiapkan budaya sebagai landasan transformasi.

Saya ingat bagaimana seorang Dirut BUMN yang mengharuskan pejabatnya menjawab tugas-tugas yang dibebankan melalui e-mail, tidak boleh pakai telpon. Ini adalah contoh mempersiapkan e-culture bagi karyawan.

Perubahan Radikal v.s Gradual

Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah kita harus mentranformasi bisnis secara cepat atau bertahap. Ada dua kubu yang saling bertentangan. Sawhney dan Zabin dalam bukunya Seven Steps to Nirvana (2001) menyarankan agar transformasi jangan tergesa-gesa. Lebih baik jelas dulu tujuan dan proses yang akan dijalankan. Kesalahan yang dibuat pada masa transisi akan mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang.

Sementara itu Burke & William Trahant dalam bukunya Business Climates Shifts (2000) mengatakan agar dilakukan perubahan secara radikal dan cepat. Karena dengan perubahan yang cepat akan dapat mengubah peta pasar dan persaingan di industri itu.

Contoh klasik adalah Amazon.com yang mengubah peta persaingan industri buku menjadi radikal, yang mau tidak mau membuat para pemain lain harus ikut menyesuaikan diri. Mereka berpendapat bahwa Hukum Moore, yaitu gagasan yang mengatakan kecepatan microprocessor akan meningkat tiap 18 bulan, juga berlaku di dunia bisnis yang berlandaskan teknologi informasi.

Menurut pendapat saya, sebaiknya bertahap dan sistematis. Dengan bertahap kita bisa sempat belajar dari orang lain yang telah melakukan transformasi. Di samping itu budaya kita masih belum mendukung. Mereka masih melihat komputer hanya sebagai pengganti mesin ketik, sementara internet masih dipandang hanya sebagai tempat mencari informasi.

Komunikasikan

Kita telah tahu bahwa dengan transformasi, perusahaan akan menjadi bentuk yang baru. Komunikasi menjadi kata kunci. Visi, tujuan, strategi dan proses transformasi harus dikabarkan kepada semua pihak (stakeholder) pada awal transformasi. Sering terjadi, pada waktu transformasi sedang dijalankan, ada pemegang saham yang masih mempertanyakan mengapa harus transformasi dsb. Karena kita akan berlayar menuju tanah harapan, maka menggambarkan manfaat, tantangan, termasuk resiko, merupakan tanggung jawab manajemen puncak perusahaan.

Kita ingat bagaimana Jack Welch, mantan CEO General Electric harus terbang yang jika diukur jaraknya lebih dari 40 kali mengelilingi bumi dalam menjelaskan transformasi perusahaannya. Dalam pertemuan itu, Jack Welch menjelaskan transformasi yang dijalankan. Kepada para engineer, dipersilakan untuk mendebat rencananya itu. Dengan debat yang alot dan berlarut-larut akhirnya diperoleh pemahaman. Setelah dicapai pemahaman, mereka menganggap transformasi adalah kebutuhan mereka bukan semata-mata kepentingan perusahaan, dan inilah kunci sukses sebuah transformasi.

Pemimpin yang Transformasional

Mengarungi lautan perubahan menuntut pemimpin yang kuat yang mampu menanggapi dan mengatasi tantangan yang menghadang transformasi. Keteguhan Columbus dalam upaya menemukan benua Amerika, patut ditiru oleh pemimpin transformasional. Boss dan Avolio dalam buku mereka ‘Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership’ (1994) menawarkan 4 prasarat seorang pemimpin transformational yang efektif, yaitu:

1. Karisma, yaitu adanya respek dan kekaguman bawahan kepada pemimpinnya,

2. Kepedulian, yaitu tingkat kepedulian pemimpin terhadap kebutuhan dan harapan bawahannya.

3. Stimulasi intelektual, di mana pemimpin menyediakan tugas yang menarik dan mendorong karyawan menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri, dan

4. Pemimpin yang menginspirasi, sehingga bawahan yakin terhadap visi dan nilai-nilai yang dimiliki oleh pemimpinnya.

Lima langkah E-Transformasi

Mulailah E-Transformasi sekarang. Ini sejalan dengan himbauan Don Tapscott dalam bukunya Blueprint to the Digital Economy. Dia mengatakan bahwa, “bisnis yang ingin sukses di masa depan harus mulai bekerja hari ini menentukan tipe perusahaan yang diinginkan di masa datang. Bergumul dengan masa ketidakpastian esok hari menuntut adanya sikap “pembelajar” daripada sikap “saya tahu” masa depan.

Walau tidak ada resep yang sifatnya ‘sake and bake’, pedoman berikut dapat dijadikan ancar-ancar jika anda ingin melakukan e-transformasi.

1. Manajemen senior harus menentukan E-vision, yaitu kondisi masa depan yang didambakan akan dapat dicapai oleh perusahaan.

2. Rumuskan strategi Transformasi dengan mengkoordinasikan sistem E-business dengan titik utama pada pelanggan.

3. Arahkan strategi pada aktivitas di mana biaya yang ada bisa diturunkan dengan sistem E-business.

4. Arahkan strategi pada aktivitas yang menyebabkan terjadinya efektivitas operasional jika E-business diterapkan di sana.

5. Persiapkan karyawan untuk siap terhadap perubahan yang terjadi akibat transformasi.

Jika Stephen Covey menyarankan agar kita selalu memiliki kompas berupa arah ‘utara’ yang benar, maka saya sarankan agar kompas perusahaan anda adalah pelanggan. Jika itu anda lakukan, percayalah bahwa anda tidak akan tersesat, dan jangan lupa enjoy the journey.

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...

Politeknik Pos Indonesia
Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.