Anda ingin memperbaiki kinerja penjualan anda? Manfaatkan Kecerdasan Emosi. Mengapa? Karena penjualan adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Kata kuncinya adalah pada kecerdasan emosi yang mutlak harus anda miliki jika anda ingin meningkatkan penjualan secara dramatis...Baca artikel selengkapnya |
Bagaimana Menjadi Pemimpin Karismatik, dengan mudah, praktis, dan cepat... Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya. Baca artikel selengkapnya |
Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar… Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan. Baca artikel selengkapnya |
Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
“Tolong dik, di-print kan dulu emailnya, ya,” begitu perintah halus seorang manajer wanita yang usianya mendekati 51 tahun. Setelah email itu di-print, ia kemudian membaca dengan seksama. Dahinya berkerut, matanya mentheleng, membaca dengan penuh perhatian.
Merenung sejenak, ia kemudian mengambil kertas putih kosong, dan mengonsep jawaban. Nampaknya gagasan tidak mengalir dengan mudah. Ditenggaknya gelas besar berisi air putih. Diambilnya nafas panjang-panjang sambil matanya menatap di kejauhan melalui jendela kaca di gedung lantai 4.
“Bagaimana ini, kalau saya setujui, pasti itu dijadikan preseden. Nanti, kalau ada permintaan serupa, saya pasti tidak bisa menolak,” keluhnya. Akhirnya setelah menyaksikan sepasang burung gereja yang beterbangan dengan penuh kegembiraan, ia lanjutkan menulis.
“Tolong ini dirahasiakan ya, dan ketikkan sekarang. Setelah saya periksa, tolong nanti emailnya dikirim ya?”
Anda heran bukan, untuk mengirim email harus dikonsep dulu, kemudian menyuruh orang lain untuk mengetik? Itulah kenyataannya yang terjadi di sekitar kita. Berdasar pengamatan saya, generasi yang sekarang berumur 50 tahun ke atas, banyak tidak paham komputer, apalagi internet.
Sementara itu, perusahaan mulai menerapkan internet, intranet, bisnis berbasis internet, e-business, e-leadership dan masih banyak istilah baru lainnya. Jelas tidak mudah untuk menyesuaikan dengan hal-hal baru itu.
Tapi itulah tuntutan saat ini. Organisasi batas-batasnya makin tidak jelas. Karyawan yang leha-leha di ruangnya, ternyata sambil berkomunikasi dengan orang Taiwan. Atau, seorang ibu-ibu berjilbab ternyata sedang chatting dengan bule dari Italia. Ternyata mereka bicara tentang bisnis, dan bisnis itu ada kaitan erat dengan perusahaan itu.
Ini adalah fenomena yang harus disadari oleh pemimpin. Jika di masa lalu pemimpin adalah orang yang serba tahu, atau sampai tahapan “maha tahu” sehingga sering merasa benar sendiri, sekarang ini, karyawanlah yang lebih tahu segalanya.
Miliki Segera Buku Transformational Leadership!
Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda... Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya... Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531 |
Saat ini, mungkin sedang ada diskusi di newsgroup yang sedang membahas kelemahan produk kita, dan kita tidak berbuat apa pun untuk mencegah mereka menyerang kelemahan kita. Anda tentu tidak bisa melarang mereka membahas kelemahan perusahaan anda. Apalagi, apa yang termuat dalam newsgroup itu tersimpan dan dengan mudah ditemukan oleh pembaca yang lain.
Yang harus anda lakukan adalah menganjurkan karyawan untuk juga ikut dalam diskusi-diskusi semacam itu. Ia harus bisa berlaku sebagai “ambassador” bagi perusahaannya. Ia harus “membela” perusahaan dengan cerdik. Ketika karyawan anda ikut dalam diskusi itu, beberapa hal di perusahaan anda, akan terungkap keluar. Ketika informasi keluar dengan bebas, berarti orang lain juga bisa membaca informasi itu. Perusahaan kita bahkan menjadi “telanjang”.
Anda tidak percaya, masuk saja ke Google, dan ketik, “Income Statement filetype:xls”. Di Google akan muncul begitu banyak laporan rugi laba perusahaan, termasuk perusahaan yang belum go public.
Menakutkan, mengherankan? Ya, selamat datang di jaman e-culture. Jaman di mana model hirarki berupa command and control yang tiba-tiba menjadi usang. Karyawan sekarang bukan lagi hanya alat produksi. Merekalah asset yang paling utama. Modal intelektual, kreativitas, insight, inovasi, hanya datang dari para karyawan. Begitu anda mulai sering menyakiti hati mereka, menyia-nyiakan upayanya, siap-siaplah anda merugi.
Mengapa? Bukankah mereka masih rajin masuk mengantor tiap hari? Ya, benar. Tapi pikiran mereka tidak ada di kantor. Jika di kantor ada fasilitas internet, mereka akan “keluyuran” ke situs-situs yang tidak ada kaitannya dengan perusahaan anda. Bahkan mungkin mereka malah sedang mengunjungi web pesaing di mana mungkin menyediakan lowongan kerja…
Agar anda tidak tertinggal dalam e-culture ini, anda sebaiknya juga paham teknologi ini. Idealnya, anda manfaatkan betul email untuk membangkitkan semangat, untuk memuji atas prestasi kerja karyawan anda. Karena pujian anda tertulis, karyawan akan bisa memperlihatkan hal itu kepada karyawan lain, atau bahkan pada istri atau suaminya. Ini jelas menimbulkan kebanggaan.
Dari studinya, Kelloway dan kawan-kawannya di Saint Mary’s University, meneliti apakah penerima email mampu membedakan pesan yang bersifat acuh tak acuh, menginspirasi, atau sekadar ancaman halus. Mereka menemukan bahwa penerima email benar-benar bisa merasakan situasi “between the line” dari pengirim. Jika pengirim email menghargai, mereka bisa merasakannya. Jika acuh tak acuh, mereka juga bisa mendeteksinya.
Ini memberi kita gagasan, sebaiknya kita berhati-hati ketika mengirim email. Dengan sifatnya yang begitu mudah, begitu instant, kadang kita mengirim email tanpa memikir panjang. Akibatnya, kita sering menyesal gara-gara kurang hati-hati. Melihat ini, nampaknya kita sekarang tidak lagi menertawakan ibu pejabat yang mengonsep jawaban email lebih dulu. Mungkin kritikan baginya adalah, “Mbok diketik sendiri, nanti rahasianya ketahuan lho!
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |

Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
