Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
Saya lebih suka memandang transformasi perusahaan sebagai sebuah sandiwara tiga babak yang sedang kita semua mainkan. Karena ia sebuah sandiwara, maka pasti ada tokoh jagoannya, yaitu sang protagonis. Tokoh yang kita benci? Namanya protagonis. Lainnya? Para figuran.
Jika anda orang yang sangat suka sinetron, anda pasti sangat menyayangi jagoan anda. Jika jagoan anda terluka, anda ikut luka. Jika ia kalah, anda ikut sedih. Siapakah jagoan itu jika kita bicara pada konteks organisasi? Di akhir tulisan saya akan jawab…
Bagi saya, lebih menantang menjadi pemeran antagonis. Mengapa? Karena kebanyakan peran-peran itu bertentangan dengan kehidupan kita sehari-hari. Pada umumnya kita adalah orang baik-baik. Bagaimana bisa kita memerankan menjadi penjahat tengik, berbicara kasar, dan harus terlihat licik.
Semakin kita terlihat licik dan culas, penonton semakin benci.
Pada drama perusahaan, yang menjadi antagonis adalah CEO atau Dirut. Pada pabrik mobil Chrysler yang waktu itu hampir bangkrut, antagonisnya adalah Lee Iacocca.
Pada General Electric, antagonisnya adalah Jack Welch.
Mengapa mereka memerankan antagonis? Karena tidak ada pilihan lain.
Kedua orang itu menjalani “Dharma” mereka sebagai pimpinan puncak yang harus menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut.
Lee Iacocca, dengan tanpa malu “mengemis” kepada senat Amerika Serikat agar memberikan bantuan. Senjata andalannya untuk meminta bantuan adalah Chrysler merupakan asset kebanggaan Amerika. Kalau ia hancur, maka sebagian kebanggaan dan asset Amerika akan hancur. Akhirnya Chrysler terselamatkan dan kita bisa melihat jejak roda mobilnya di Indonesia dalam bentuk mobil Cherokee.
Informasi Seminar / Pelatihan
|
Jack Welch, seorang doktor di bidang kimia, juga menjalani dharmanya. Akibat keputusannya, puluhan ribu orang kehilangan pekerjaannya. Senangkah ia mem-PHK? Jelas tidak. Ingat dia hanya pemain drama. Ia di kehidupan normalnya adalah seorang Bapak yang baik, namun dalam drama yang ia mainkan, ia telah berlaku kejam jika ditengok dari kacamata karyawan.
Transformasi sebagai drama terdiri dari tiga babak utama yaitu: pertama, mulai timbul gagasan untuk mengubah diri. Biasanya ditandai dengan pendapatan yang makin turun, pangsa pasar yang makin kecil, dan kepuasan kerja yang makin rendah.
Gagasan ini bila telah ditangkap dan dijadikan langkah-langkah perubahan oleh pimpinan perusahaan, maka hal itu merupakan babak pertama.
Babak kedua perubahan organisasi itu mulai diformalkan. Mulai dibentuk organisasi yang merancang perubahan itu. Dalam babak kedua sebagaimana drama, mulai terjadi konflik-konflik. Konflik sering terjadi pada penentuan prioritas, mengadu konsep, mengadu teori …sampai kepada memasukkan agenda pribadi yang dibungkus dengan agenda tranformasi.
Apapun motifnya, sepanjang konflik itu masih secara jelas dan parallel terkait dengan konsumen, maka konflik itu masih valid.
Babak ketiga, mulai dilaksanakan transformasi. Isu-isu yang tadinya hanya sebatas pada meja-meja rapat, sekarang telah ada di depan kita, siap untuk dilaksanakan. Jika pada Drama, babak ketiga merupakan bagian yang paling menarik, maka perubahan itu juga paling menarik pada waktu pelaksanaan perubahan itu.
Tapi inilah fenomena kehidupan yang tidak bisa kita hindari. Singa yang memang ditakdirkan sebagai pemakan rusa, harus berusaha keras untuk bisa menangkap rusa yang paling lemah. Itupun, setelah diteliti secara statistik, dari sepuluh usaha menangkap rusa, hanya satu yang berhasil.
Tentu, kita bukan singa…tapi kenyataan perubahan yang terjadi di sekeliling kita tidak terhindarkan. Kita tentu lebih menghargai singa yang berlari-lari berusaha menangkap rusa dan akhirnya gagal. Karena gagal, ia kelaparan dan akhirnya mati. Kita pasti angkat topi kepada singa itu…Ia mati tapi sudah berjuang.
Bagaimanakah dengan kita semua? Sudahkah kita berjuang dan berusaha sekuatnya untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaan kita? Sudahkah kita menjalani Dharma kita sebagai pegawai, sebagai manajer, sebagai pimpinan puncak? Ralph Waldo Emerson, pujangga kenamaan Amerika pernah berkata, “Keberhasilan adalah kita bisa membuat jalan kecil sehingga memudahkan orang yang lewat…”
Ingat, dia tidak menekankan keberhasilan berupa menghasilkan sesuatu yang phenomenal, tapi cukup membuat kondisi lebih baik, walaupun itu kecil.
Kembali kepada drama di televisi tadi, jika setelah menonton kita mampu melupakan drama itu dengan melakukan aktivitas lain, drama yang kita hadapi berupa perubahan di berbagai perusahaan adalah sesuatu yang nyata yang tidak bisa kita hindari.
Seninya adalah bagaimana kita menjadi pemain yang aktif dalam perubahan itu. Ingat, pada kondisi yang tidak menentu, orang ingin berlindung kepada orang yang mengambil inisiatif…Kita semua tentu tahu dari sejarah kita mulai dari jaman Singosari hingga jaman reformasi, siapa yang mengambil inisiatif, dialah yang mendapatkan “buah” terbanyak dari “ontran-ontran (kekacauan) perubahan itu.”
Para inisiator inilah yang sesungguhnya “jagoan” dari Drama itu.
DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya... |
Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.
