Menjual dengan Kecerdasan Emosi

Anda ingin memperbaiki kinerja penjualan anda? Manfaatkan Kecerdasan Emosi. Mengapa? Karena penjualan adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Kata kuncinya adalah pada kecerdasan emosi yang mutlak harus anda miliki jika anda ingin meningkatkan penjualan secara dramatis...Baca artikel selengkapnya

Menjadi Pemimpin Karismatik

Bagaimana Menjadi Pemimpin Karismatik, dengan mudah, praktis, dan cepat... Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya. Baca artikel selengkapnya

Atasan Yang Sangat Menjengkelkan...

Saya sangat membencinya. Walau kebencian itu akhirnya memudar…

Benar-benar menjengkelkan bos saya itu. Ia selalu mengulang-ulang pertanyaan ini. Anda sebagai orang SDM harusnya bisa menyumbang sesuatu pada strategi kita. Coba peran anda ditingkatkan lagi...Jangan hanya ngurusin yang sepele-sepele saja. Setelah itu terus saja ia 'khotbah' dengan berbagai teori yang membosankan. Kadang memuakkan. Baca artikel selengkapnya

Manajemen Pemasaran - Nikmatnya Belanja di Sentra Industri Bandung

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )

Siang itu saya harus mengantar saudara saya ke Cibaduyut, Bandung. Keinginan untuk meng “explore” pusat Industri kulit itu telah tertanam di hati saudara saya sejak ia berangkat dari kota gethuk, Magelang.

Ke Cibaduyut memang merupakan pengalaman yang mempesonakan. Begitu masuk ke Jalan Cibaduyut, kita sudah disambut oleh Patung Sepatu. Ia tegak berdiri seolah mengucap “Soegeng Rawuh, Wilujeng Sumping, Welcome dan Selamat Datang.”

Terbayang di benak saudara saya itu betapa akan hebat dan gagahnya ketika ia nanti sekembali ke kotanya bisa cerita bagaimana “her experience”nya ketika menawar sepatu hak tinggi khusus untuk penyanyi ndangndut. Oh, ya, saudara saya itu memang penyanyi sehingga datang ke Cibaduyut dan ke Outlet-Outlet dalam rangka melengkapi “pakaian kerjanya.”

Begitu masuk ke Jalan Cibaduyut, kemacetan mulai nampak. Saudara saya berpikir, “we lha, hebat tenan,  belum masuk ke puser-nya Cibaduyut, sudah padha macet. Pasti huebat di sana.”

Dengan beringsut dan mempergunakan naluri supir yang khas Sumatra (dulu saya pernah tugas di Jambi), saya mampu merangsek dan mengecoh beberapa sopir angkot, sehingga saya bisa parkir di toko yang cukup besar.

Saudara saya itu saya persilakan untuk langsung ke toko yang dari pinggir jalan sudah menawarkan aneka sepatu nDangdut. Ada yang warnanya merah, hijau, pink, kulit ular dsb, pokoknya begitu sepatu itu dipakai di depan ngantenan atau di panggung THR, maka si pemakai akan jadi “Queen of Dangdut” yang akan membuat Inul harus membuat kalkulasi njelimet melihat pesaing baru yang hebat ini.

Miliki Segera Buku Transformational Leadership!

Bayangkan dampaknya pada kepemimpinan anda pada 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun mendatang jika anda menerapkan metoda kepemimpinan unggulan ini. Anda akan menjadi pemimpin yang unggul, pemimpin yang begitu dirindukan oleh bawahan anda...

Caranya? Baca dan terapkan resep-resep dari buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul.

Buku itu setebal hampir 400 halaman yang berisi berbagai strategi praktis untuk menjadi pemimpin unggul. Dari testimoni pembaca buku itu, hampir semua memuji buku itu demikian baik, menginspirasi, dan mendalam. Jangan percaya begitu saja dengan komentar mereka. Anda sendiri bisa membuktikannya...

Silakan lihat Pengantar dan Bab 7 dari buku itu

Jika anda membutuhkan buku itu, segera hubungi Irma pada no hp: 0856-226-5469 atau (022)7318531

Saya dan istri saya hanya “strolling,” melihat-lihat harga-harga sepatu di toko besar itu, dengan harapan siapa tahu nemu “mega diskon sebesar 90%.” Karena demikian cermat dan metodis dalam meng”audit” harga, ternyata saya menemukan fenomena menarik.

Sepatu sekolah merek W yang baru dibeli oleh istri saya di pertokoan Kosambi, ternyata jauh lebih murah daripada di Cibaduyut. Harga di Kosambi Bandung Rp. 35.000,- sedangkan di Cibaduyut, seharga Rp. 48.500,-

Dengan naluri “menawar” yang mendarah daging pada istri saya, ia bertanya kepada saya, “How can that be? Piye tho Pakne iki kok larang tenang (terjemahan bebas: Bagaimana ini kok muahal?)”Saya tanyakan kepadanya apakah barangnya persis? Dia menjawab “précis…”

Ingatan saya melayang jauh ke Pringsurat, suatu daerah diantara jalan Semarang – Magelang. Di Pringsurat amat dikenal sebagai penghasil buah lengkeng. Lengkeng di daerah ini walau tidak sebesar lengkeng mBangkok, tapi rasa manisnya demikian “anyleg dan seger.”

Oleh karenanya banyak sekali orang yang “traveling” dari Semarang ke Yogya, sering membeli lengkeng itu. Timbul di benak pembeli, “lha ini baru lengkeng asli yang manis dan gurih. Ini produksi asli Indonesia. Itu pohon lengkengnya demikian banyak.”

Memang pohon lengkeng amat banyak tumbuh di daerah itu. Hasil panennya sebagian ada yang dijual di pinggir jalan Semarang – Yogya itu. Tapi berdasar “inside info” ternyata lengkeng yang dijual bukan hanya dari daerah Pringsurat, tapi juga dari Demak dan kota-kota lainnya. Mengapa dijual di Pringsurat? Karena ia merupakan “sentra” lengkeng. Dengan sentra ini seolah-olah “justifiable” untuk menjual lengkeng lebih mahal. Apakah ini sama dengan Cibaduyut?

Simak kisah berikut.

Di dekat Candi Borobudur…Entah bagaimana sejarahnya, tanah di dekat Borobudur, yaitu daerah Salaman dikenal sebagai penghasil rambutan ACE, yaitu rambutan yang buahnya ngelotok sehingga kita tinggal melahapnya. Ada pula jenis rambutan yang paling mahal yaitu rambutan lengkeng atau rapi’ah, atau rafi’ah (saya nggak tahu persis yang mana tulisannya yang benar, pokoknya itu rambutan yang paling mahal).

Sama seperti di Pringsurat, hasil panen rambutan dijual di pinggir jalan. Orang yang membeli rambutan di situ mantap kalau rambutan yang dijual memang dihasilkan oleh Salaman. Hal itu terbukti dari begitu banyaknya pohon rambutan dengan buahnya yang “pating gerandul” di muka rumah-rumah orang Salaman.
Tapi benarkah di sana yang dijual hanya rambutan dari Salaman? Ya, jika masih ada persediaan dari kebun sekitar. Jika tidak? Maka diambilkan rambutan dari Surabaya, dan kota-kota lainnya.

Bagi pembeli, tahunya rambutan itu masih asli Salaman…
Tertipukah pembelinya? Ya, jika roso pangroso (feeling) rambutan amat tajam, jika tidak ia tidak akan tahu bedanya.

Kalau suatu perusahaan jasa kurir berjanji akan menyampaikan dokumen dalam waktu 2 hari dan ternyata nyampai tiga hari, apakah konsumen merasa tertipu? Ya, jika ia sering kirim dokumen, dan ternyata janji itu meleset. Tidak, jika ia jarang kirim dokumen. Baginya, lambat adalah “no big deal.” Ia punya segudang substitusi produk lainnya.

Sama seperti saya yang jadi agak “aras-arasen” (hesitate, gojak-gajek, ragu-ragu) beli di Cibaduyut, jangan-jangan konsumen perusahaan kita juga tidak beli lagi karena takut “tertipu…”

Moral cerita: Nampaknya kita harus jujur kepada konsumen. Jika memang kita mampunya menyampaikan dokumen dalam waktu 3 hari atau bahkan seminggu, sebaiknya katakan saja “sejujurnya.” Jika shampoo yang kita produksi hanya bisa 67% menghilangkan ketombe, ya katakan saja terus terang. Betapapun juga “jujur” adalah lebih selamat dunia akhirat

 

DR. Dwi Suryanto, Ph.D. adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...

Politeknik Pos Indonesia
Perhatian: Jika anda ingin memuat artikel-artikel dalam web pemimpin-unggul dalam web, blog, majalah, newsletter milik anda, silakan lakukan, asal bentuknya masih dalam bentuk utuh seperti ini.